Sentimen pasar saham Amerika Serikat berbalik menguat setelah pernyataan Donald Trump di panggung World Economic Forum (WEF) di Davos meredakan kekhawatiran investor. Sebelumnya, kontrak berjangka Wall Street sempat mengindikasikan kelanjutan pelemahan pada pertengahan pekan ini, namun nada yang lebih defensif dari Presiden AS memicu perbaikan suasana pasar.
Salah satu pemicu utama perubahan sentimen adalah pernyataan Trump terkait Greenland. Ia menyampaikan bahwa solusi “dengan kekuatan” tidak akan ditempuh, yang memberi kelegaan bagi pasar global. Selain itu, tidak adanya pembahasan mengenai tarif terkait Greenland turut menghidupkan kembali narasi “TACO” (Trump Always Chickens Out) di kalangan pelaku pasar.
Dalam pidatonya, Trump menggambarkan Amerika Serikat sebagai “mesin planet ini” dan menekankan bahwa kemakmuran global bergantung pada pertumbuhan ekonomi AS. Ia menyoroti rekam jejak pemerintahannya dalam deregulasi, pemangkasan pajak, dan pengendalian inflasi.
Trump juga melontarkan kritik terhadap Eropa, terutama terkait kebijakan energi dan migrasi, yang ia bandingkan dengan agenda “America First” yang selama ini ia usung. Di sisi perdagangan, ia tetap mempertahankan nada proteksionis dengan mengusulkan tarif 30% terhadap Swiss untuk menekan defisit perdagangan yang melebar.
Soal Greenland, Trump kembali menegaskan keinginannya untuk menegosiasikan akuisisi wilayah tersebut. Ia menyatakan bahwa “tidak ada negara lain selain AS” yang seharusnya menguasainya, serta menyampaikan ultimatum kepada Denmark: “Jika mereka mengatakan ya, itu akan disambut; jika mereka mengatakan tidak, itu akan diingat selamanya.”
Di sektor energi, Trump memuji energi nuklir serta dominasi AS di minyak dan gas, namun tetap mengkritik energi terbarukan, khususnya tenaga angin. Ia juga berjanji menurunkan harga komoditas dan mendorong penyelesaian konflik di Ukraina. Selain itu, ia mengisyaratkan Venezuela berpotensi memperoleh manfaat dari peningkatan investasi Amerika Serikat.
Dari sisi teknikal, kontrak berjangka S&P 500 (US500) mencatat pemulihan solid dan diperdagangkan di sekitar level 6.900, setelah sempat tertekan pada sesi sebelumnya. Kontrak tersebut berhasil merebut kembali kenaikan sekitar 0,7%. Koreksi yang berlangsung dinilai memiliki skala sebanding dengan koreksi pada Desember lalu. Area resistensi yang menjadi perhatian berada di 6.930, bertepatan dengan retracement Fibonacci 50,0% dari koreksi saat ini serta celah pembukaan akhir pekan. Jika tekanan jual berlanjut, perhatian pasar mengarah pada area retracement 50,0% dan 61,8% dari reli besar yang dimulai pada November.
Di tingkat emiten, saham Netflix (NFLX.US) turun sedikit di atas 2,5% pada awal perdagangan, meski sudah pulih dari penurunan hampir 8% di pra-pasar. Kinerja kuartal IV dilaporkan sesuai ekspektasi, namun panduan ke depan dinilai mengecewakan investor. Netflix juga mengumumkan peralihan ke penawaran tunai penuh untuk Warner Bros guna memuluskan proses merger, serta menghentikan program pembelian kembali saham untuk menjaga likuiditas.
Johnson & Johnson (JNJ.US) melaporkan pendapatan kuartal IV 2025 sebesar USD 24,6 miliar, sedikit di atas konsensus USD 24,1 miliar. EPS tercatat USD 2,46 dan relatif sejalan dengan ekspektasi. Meski pasar menyambut positif pertumbuhan portofolio onkologi dan prospek 2026 yang stabil, saham JNJ diperdagangkan turun hampir 2% pada sesi tersebut.
Charles Schwab (SCHW.US) membukukan hasil sesuai proyeksi analis, dengan pendapatan USD 6,34 miliar dan EPS USD 1,39. Reaksi awal yang negatif karena tidak adanya kejutan laba tertahan oleh reli pasar secara keseluruhan, sehingga saham menguat tipis mendekati 1%.
Travelers (TRV.US) mencatat kejutan positif dengan EPS USD 11,13, jauh di atas perkiraan USD 8,74. Pendapatan mencapai USD 12,43 miliar, melampaui estimasi USD 11,04 miliar. Saham sempat melonjak ke USD 275 saat pembukaan sebelum terkoreksi ke sekitar USD 270, namun tetap mempertahankan kenaikan sekitar 1%.
Halliburton (HAL.US) melampaui ekspektasi dengan EPS USD 0,69 (dibanding perkiraan USD 0,54) dan pendapatan USD 5,7 miliar. Fokus perusahaan jasa ladang minyak ini pada peluang investasi baru, termasuk potensi ekspansi di Venezuela, mendorong sahamnya naik lebih dari 3%.

