Seorang perempuan Yazidi bernama Sipan Khalil menceritakan kembali pengalaman pahit yang ia alami setelah diculik ISIS pada 2014. Dalam kesaksiannya, Sipan menggambarkan rangkaian kekerasan yang dialaminya sejak remaja, termasuk dijadikan budak, mengalami penyiksaan, dan tidak diberi makan.
Sipan berasal dari komunitas Kurdi kuno di Irak utara yang memeluk Yazidisme, agama minoritas yang kerap menjadi sasaran ISIS. Tragedi itu bermula ketika ISIS menyerbu Desa Kocho pada 2014. Saat itu Sipan berusia 13 tahun. Ia ditangkap, dibawa ke Raqqa, Suriah, lalu diperdagangkan sebagai budak.
Selama berada dalam cengkeraman ISIS, Sipan mengatakan ia menyaksikan banyak gadis belia diperlakukan secara brutal. Ia mengaku mengalami pemerkosaan berulang, pemukulan, serta dibiarkan kelaparan. Ia juga dipindahkan ke rumah Abu Bakr al-Baghdadi dan dipaksa bekerja sebagai pembantu rumah tangga sekaligus mengasuh anak-anak pemimpin ISIS tersebut.
Dalam wawancara dengan Rudaw pekan lalu, Sipan—kini berusia 26 tahun—mengatakan ia melihat budak Yazidi lain dipilih satu per satu untuk diperkosa. Ia menyebut kekerasan itu kemudian menimpanya, termasuk ketika ia diikat dan disiksa secara brutal selama berbulan-bulan.
Pada 2017, seperti dikutip dari Mail Online, Sipan dipaksa menikah dengan Abu Azam Lubnani, militan ISIS asal Lebanon berusia 22 tahun. Menurut Sipan, pria itu kerap menunjukkan video penembakan terhadap para tahanan sambil meneriakkan takbir.
Setelah ISIS kalah, Lubnani disebut berupaya memperdagangkan Sipan ke Lebanon. Namun perjalanan itu berakhir ketika ranjau darat meledak. Sipan mengaku terluka bersama bayi laki-lakinya yang saat itu berusia tiga bulan. Dalam situasi tersebut, ia mengatakan berhasil merebut senjata dan menembak Lubnani serta penyelundup yang membawanya. “Jika aku tidak membunuh mereka, aku tidak akan pernah bebas,” ujarnya.
Sipan kemudian diselamatkan oleh sebuah keluarga Badui yang menyembunyikannya selama dua tahun. Setelah memiliki ponsel, ia mencari keluarganya melalui media sosial dan menemukan ibunya serta empat saudara laki-laki dan lima saudara perempuan yang masih hidup. Dengan bantuan keluarga Badui, Sipan kembali ke Irak dan pada 2021 resmi dibebaskan serta dipersatukan kembali dengan keluarganya.
Kini Sipan tinggal di Berlin. Ia belajar dan bekerja bersama Farida Organization, lembaga hak asasi manusia yang didirikan oleh para penyintas Yazidi. Ia juga merawat adik-adiknya yang masih hidup. Sipan menyebut sebagian besar keluarganya tewas dalam genosida. “Mereka membunuh ayahku, saudaraku, paman-pamanku, dan sepupuku,” katanya.

