Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul menetapkan target nilai ekspor pada 2026 sebesar USD 120 juta, meski kondisi ekonomi global masih bergejolak. Target tersebut dipasang dengan mempertimbangkan capaian ekspor tahun sebelumnya yang belum sepenuhnya memenuhi sasaran.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Bantul, Tutik Lestariningsih, menyebut realisasi ekspor Bantul pada 2025 mencapai sekitar USD 110 juta dari target USD 120 juta. Karena capaian itu belum terpenuhi, target ekspor 2026 diputuskan tetap sama seperti tahun sebelumnya.
Menurut Tutik, kinerja ekspor Bantul sangat dipengaruhi kondisi ekonomi internasional. Sejumlah faktor eksternal seperti kebijakan perdagangan Amerika Serikat, perang dagang antarnegara, konflik Ukraina, serta gejolak di kawasan Timur Tengah disebut berdampak pada perlambatan ekonomi dunia dan menurunnya daya beli negara tujuan ekspor.
“Ekspor ini sensitif, sangat tergantung kondisi internasional. Kami tidak bisa menentukan sendiri, karena negara tujuan juga sangat mempengaruhi,” kata Tutik, Rabu (4/2/2026).
Hingga saat ini, Amerika Serikat masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar bagi Bantul. Komoditas utama yang dikirim meliputi produk garmen dan mebel. Untuk garmen, produk yang diekspor antara lain pakaian jadi serta berbagai produk berbahan kain.
Meski tekanan global masih terasa, Pemkab Bantul menyatakan tetap optimistis target ekspor 2026 dapat tercapai. Namun, optimisme itu bergantung pada perbaikan kondisi ekonomi internasional dalam beberapa waktu ke depan. “Mudah-mudahan tercapai, kalau ekonomi global membaik,” ujar Tutik.
Kepala DKUKMPP Bantul, Prapta Nugraha, menambahkan bahwa pihaknya menyiapkan sejumlah strategi untuk mengejar target ekspor di tengah keterbatasan anggaran. Ia mengakui fasilitasi bagi pelaku ekspor masih dilakukan, tetapi skalanya tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau dulu ada pelatihan bertaraf internasional, sekarang sudah tidak ada. Maka kami dorong kerja sama dengan pihak lain,” kata Prapta.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah menggandeng perbankan, khususnya bank pelat merah, melalui program pendukung ekspor mulai dari pembiayaan hingga peningkatan kapasitas pelaku usaha. Selain itu, pelaku ekspor Bantul juga difasilitasi untuk mengikuti pameran berskala nasional dan internasional, dengan harapan transaksi meningkat dan pasar ekspor produk unggulan Bantul semakin luas.
“Harapannya transaksi bisa naik dan target ekspor bisa tercapai,” pungkas Prapta.

