BERITA TERKINI
Pemerintah Tegaskan Defisit Fiskal Dijaga di Bawah 3% PDB Sambil Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Pemerintah Tegaskan Defisit Fiskal Dijaga di Bawah 3% PDB Sambil Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga defisit fiskal tetap berada di bawah ambang 3% dari produk domestik bruto (PDB) di tengah tekanan global dan volatilitas pasar keuangan. Kebijakan ini ditempuh sembari tetap mendorong pertumbuhan ekonomi yang dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor dan menopang kinerja dunia usaha.

Senior Macro Strategist PT Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, mengatakan disiplin fiskal menjadi perhatian utama investor global, terutama investor obligasi. Menurutnya, meski defisit Indonesia masih berada pada level yang dinilai aman, ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan fiskal tetap memengaruhi pergerakan pasar keuangan, termasuk nilai tukar rupiah.

“Asing itu masih khawatir, kemarin defisit kita 2,92 persen. Tapi pemerintah mencoba bertahan di threshold kurang dari 3 persen,” ujar Fithra, dikutip Minggu (25/1/2026). Ia menambahkan, komitmen tersebut juga disampaikan langsung kepada investor obligasi asing dalam pertemuan dengan pelaku pasar global.

Fithra menilai, menjaga defisit di bawah 3% menjadi sinyal penting untuk mempertahankan kredibilitas fiskal Indonesia di mata investor internasional. Di tengah tekanan fiskal, ia melihat pemerintah memilih pendekatan kebijakan yang berorientasi pada pertumbuhan (growth-oriented policy).

Menurutnya, fokus utama diarahkan pada upaya menjaga pertumbuhan ekonomi agar tetap memberikan imbal hasil bagi dunia usaha dan pasar modal. “Intinya adalah growth. Kalau ada growth, berarti ada return on equity. Emiten suka,” katanya.

Fithra juga menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya penting bagi emiten dan investor, tetapi juga bagi masyarakat secara luas. Pertumbuhan yang berkelanjutan dinilai menjadi kunci untuk memperbaiki daya beli dan memperluas basis ekonomi domestik. “Bukan hanya emiten yang suka, rakyat juga suka karena ada pertumbuhan,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan yang dikejar bukan semata pertumbuhan angka, melainkan pertumbuhan yang inklusif. Tanpa inklusivitas, pertumbuhan dinilai tidak akan menyelesaikan persoalan struktural seperti kemiskinan dan ketimpangan. “Percuma saja kita tumbuh tapi rakyatnya masih miskin. Itu bukan esensi bernegara,” kata Fithra.

Dari sisi fiskal, tekanan terhadap anggaran negara juga muncul pada penerimaan. Penurunan penerimaan di sejumlah pos pajak dan cukai disebut membatasi ruang fiskal pemerintah, sehingga pengelolaan defisit menjadi semakin krusial.

Meski demikian, Fithra menilai pemerintah masih memiliki ruang untuk menjaga keseimbangan antara disiplin fiskal dan stimulus pertumbuhan. Selama defisit dijaga di bawah batas psikologis 3%, risiko terhadap stabilitas makroekonomi dinilai masih terkendali.

Di pasar keuangan, kebijakan fiskal yang kredibel dianggap menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor. Fithra menilai pertumbuhan ekonomi yang konsisten akan tercermin pada kinerja emiten dan pergerakan pasar saham, meski tekanan di pasar obligasi dan nilai tukar masih terjadi.

Dengan menjaga defisit fiskal tetap terkendali dan tetap mendorong pertumbuhan ekonomi, ia berharap pemerintah mampu mempertahankan stabilitas makroekonomi sekaligus membangun fondasi pertumbuhan yang lebih berkelanjutan. Strategi tersebut dinilai penting untuk menghadapi ketidakpastian global tanpa mengorbankan agenda pembangunan domestik.