Pemerintah menegaskan penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok rentan memerlukan pendekatan berbeda dibandingkan pelaksanaan MBG di sekolah. Sasaran utama intervensi gizi ini mencakup ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD.
Deputi Bidang Bina Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Kemendukbangga/BKKBN, Wahidin, mengatakan kementeriannya mendapat tugas membantu pemerintah dalam pelaksanaan MBG untuk tiga kelompok tersebut. Pernyataan itu disampaikan usai perayaan puncak Hari Gizi Nasional di Jakarta, Minggu, 25 Januari 2026.
Menurut Wahidin, penanganan MBG bagi anak sekolah relatif lebih mudah karena distribusinya terpusat di sekolah. Sementara itu, ibu hamil dan ibu menyusui dinilai tidak memungkinkan untuk dikumpulkan setiap hari di satu lokasi.
“Kalau ibu hamil, ibu menyusui kan gak mungkin tiap hari dikumpulkan di satu tempat. Jadi harus dari luar, dikawal sampai ke rumah,” kata Wahidin.
Untuk menjangkau sasaran tersebut, Kementerian Kependudukan mengandalkan tim pendamping keluarga. Tim ini bertugas memastikan MBG sampai kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD.
Namun Wahidin mengakui cakupan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) saat ini masih terbatas. Karena itu, penyesuaian dilakukan dengan mengikuti titik-titik SPPG yang telah berjalan untuk MBG sekolah.
Ia menilai perbaikan perlu dilakukan agar dampak MBG lebih optimal, termasuk dengan memperhatikan perbedaan kebutuhan gizi pada masing-masing kelompok sasaran.
“Ya idealnya harus di klaster, jangan sama, karena kebutuhan gizinya juga berbeda-beda,” ujarnya. Wahidin berharap perbaikan tersebut dapat dilakukan seiring perluasan cakupan program.
Terkait distribusi, Wahidin menyebut alokasi MBG untuk kelompok rentan mengikuti wilayah kerja SPPG. Saat ini, alokasi tersebut berada di kisaran 10 persen dari total kapasitas layanan. Alokasi itu kemudian diserahkan kepada tim pendamping keluarga untuk didistribusikan.
Di sisi lain, Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), Doddy Izwardy, menekankan keberhasilan MBG perlu dibarengi perubahan perilaku gizi. Menurutnya, edukasi gizi menjadi faktor penting untuk dampak jangka panjang.
“Contoh MBG 1 tahun ini, kami mencoba terus menekankan dan mengawal kualitas gizi untuk program ini. Jadi intinya kami menekankan adalah perubahan perilaku pola makan,” kata Doddy.
Doddy juga menilai target penurunan stunting nasional bukan pekerjaan mudah dan membutuhkan keterlibatan semua pihak. Ia menyebut komitmen kolektif menjadi syarat utama keberhasilan.
“Penurunan stunting 5 pesen itu ga mudah, perlu komitmen penuh dari semua pihak,” ujarnya. Ia menambahkan, PERSAGI terus berperan dalam edukasi dan pengawalan program gizi nasional.

