Potensi rebound harga nikel pada 2026 dinilai dapat menjadi penopang prospek kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO) di tengah keterbatasan kuota produksi bijih nikel yang disetujui dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
Perseroan menyampaikan hanya memperoleh sekitar 30% dari kuota produksi nikel yang diajukan dalam RKAB 2026. Persetujuan RKAB tersebut baru diterima dari Kementerian ESDM, namun INCO belum merinci besaran kuota yang diajukan maupun jumlah kuota yang disetujui.
Pembatasan kuota ini berpotensi menekan volume produksi bijih nikel. Dampaknya, pasokan ke proyek hilirisasi Indonesia Growth Project (IGP) di Pomalaa, Sorowako, dan Morowali disebut belum optimal.
Meski demikian, Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, menilai peluang kenaikan harga nikel dapat menahan tekanan terhadap kinerja perseroan. Menurutnya, pembatasan kuota membuat kinerja operasional dan pendapatan INCO pada 2026 menjadi lebih terbatas, tetapi dampaknya dinilai masih moderat.
Ia menyebut INCO memiliki ruang fleksibilitas, antara lain melalui penjadwalan proyek, efisiensi operasional, serta kontrak jangka panjang yang relatif stabil. Miftahul juga menilai katalis utama INCO pada 2026 justru datang dari potensi rebound harga nikel, seiring wacana pengetatan pasokan global.
Jika skenario tersebut terjadi, prospek pendapatan dan margin dinilai dapat membaik, terutama apabila diikuti kemajuan konstruksi dan commissioning bertahap proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) Pomalaa.
Namun, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko. Ketidakpastian lanjutan terkait kuota RKAB, fluktuasi harga nikel global, serta risiko eksekusi proyek hilirisasi masih berpotensi membayangi kinerja INCO sepanjang 2026.
Dari sisi keuangan, INCO membukukan pendapatan sebesar US$ 902 juta atau setara Rp 15,03 triliun hingga November 2025. Kinerja tersebut ditopang peningkatan volume produksi dan penjualan nikel matte serta bijih nikel saprolit berkadar tinggi.
Miftahul menilai INCO masih berpeluang mencatatkan pertumbuhan laba bersih positif pada 2026, meski bertahap. Menurutnya, realisasi laba akan sangat bergantung pada volume produksi, stabilisasi harga nikel, serta kontribusi konkret proyek hilirisasi yang mulai tercermin pada kinerja laba.
Untuk saat ini, ia merekomendasikan investor bersikap wait and see terhadap saham INCO.

