Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memprediksi kebutuhan suntikan modal untuk penghiliran di sektor minyak dan gas bumi (migas) serta mineral dan batu bara (minerba) di Indonesia hingga 2040 mencapai US$500,9 miliar atau sekitar Rp7,7 kuadriliun dengan asumsi kurs saat ini.
Direktur Hilirisasi Mineral dan Batu Bara Kementerian Investasi/BKPM, Hasyim Daeng Barang, menjelaskan kebutuhan investasi tersebut terdiri atas penghiliran sektor minerba senilai US$432,8 miliar dan sektor migas sebesar US$68,1 miliar.
Selain energi dan pertambangan, Hasyim menyebut kebutuhan investasi strategis untuk penghiliran hingga 2040 juga mencakup sektor lain, yakni sebesar US$45,4 miliar untuk perkebunan, kelautan, perikanan, dan kehutanan.
Hasyim menambahkan, salah satu sasaran prioritas investasi penghiliran diarahkan pada industri baja nirkarat (stainless steel), baik produk canai dingin (cold rolled coil/CRC) maupun canai panas (hot rolled coil/HRC). Menurutnya, langkah ini dapat meningkatkan nilai tambah industri baja hingga 9,5 kali lipat.
Ia juga menyampaikan proyeksi bahwa pada 2045 permintaan global untuk stainless steel diperkirakan bernilai US$365 miliar. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Indonesia Energy Transition Dialogue (IETD) 2023 pada Selasa (19/9/2023).

