Memasuki periode 2026–2030, pasar modal—terutama pasar saham—dipandang perlu memainkan peran yang lebih kuat sebagai saluran utama mobilisasi modal jangka menengah dan panjang untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi yang cepat dan berkelanjutan. Arah ini dinilai mendesak karena pertumbuhan tidak dapat terus bergantung pada kredit perbankan semata, sementara kebutuhan pendanaan dunia usaha untuk ekspansi, infrastruktur, inovasi teknologi, dan transformasi hijau menuntut modal jangka panjang dengan biaya wajar serta mekanisme alokasi yang transparan.
Ketua Komisi Sekuritas Negara, Vu Thi Chan Phuong, menyatakan bahwa di tengah fluktuasi ekonomi dan keuangan global yang kompleks, pasar saham Vietnam tetap stabil dengan tren perkembangan positif. Ia menyoroti kapitalisasi pasar yang terus meningkat, likuiditas yang tetap baik, basis investor yang semakin luas dan beragam, serta penguatan bertahap kemampuan keuangan, manajerial, dan teknologi lembaga perantara. Namun, ia menegaskan capaian tersebut merupakan fondasi, bukan tujuan akhir.
Dalam orientasi kebijakan 2026, otoritas pengatur menetapkan dua kelompok solusi utama. Pengembangan sisi penawaran ditempatkan sebagai prioritas untuk memperkuat kemampuan perusahaan dalam menghimpun dana sekaligus memperbesar skala pasar. Logikanya, agar pasar menjadi saluran pendanaan yang efektif, pasar perlu memiliki produk yang baik, perusahaan yang berkualitas, dan mekanisme penggalangan dana yang berjalan lancar.
Komisi Sekuritas juga menekankan bahwa penguatan pasokan akan dilakukan secara serentak di tiga segmen—saham, obligasi, dan derivatif—serta pengembangan produk lain. Pendekatan ini menunjukkan fokus tidak hanya pada peningkatan jumlah perusahaan tercatat, tetapi juga pada peningkatan kualitas dan kedalaman struktur pasar secara keseluruhan.
Dari sisi minat investor global, Direktur Pasar Luar Negeri SSI Securities, Thomas Nguyen, menilai pasar saham Vietnam memasuki fase penting dan menarik perhatian lembaga keuangan internasional. Ia menyebut sejumlah institusi besar seperti Morgan Stanley, UBS, dan Barclays meningkatkan fokus pada Vietnam dan bersiap untuk keterlibatan lebih dalam melalui kerangka broker global. Menurutnya, hal ini terlihat dari pertemuan SSI dengan investor dan broker di pusat-pusat keuangan seperti New York, London, Singapura, dan Hong Kong.
Seiring proses peningkatan status pasar menjadi pasar negara berkembang menurut FTSE Russell, Nguyen memperkirakan Vietnam berpotensi menerima sekitar US$1,5 miliar arus modal pasif dari dana indeks, ditambah US$2–5 miliar dari dana investasi aktif global. Ia menilai fokus investor internasional kini bergeser dari pertanyaan mengenai daya tarik Vietnam menjadi perhatian pada ukuran pasar, likuiditas, dan kemampuan menyerap arus modal besar secara efisien—yang dinilainya mencerminkan kematangan pasar modal Vietnam dan membuka peluang menarik modal asing berkualitas.
Meski demikian, penguatan pasar dinilai tidak dapat hanya bertumpu pada sisi penawaran. Mobilisasi modal disebut efektif apabila ditopang permintaan investasi yang memadai, profesional, dan percaya diri. Karena itu, kelompok solusi kedua diarahkan untuk mengembangkan permintaan investasi, mendorong partisipasi investor, serta meningkatkan likuiditas dan kedalaman pasar sebagai prasyarat keberlanjutan operasional.
Komisi Sekuritas menyatakan akan memprioritaskan pengembangan investor institusional, menarik serta memfasilitasi investor asing, meningkatkan kualitas investor individu, dan memperkuat pengawasan, inspeksi, serta penanganan pelanggaran secara tegas guna memastikan keterbukaan, transparansi, dan keadilan pasar. Dalam pandangan otoritas, jumlah investor individu yang besar saja belum cukup untuk menciptakan stabilitas; pasar membutuhkan porsi investor institusional yang kuat untuk menopang investasi jangka panjang, membatasi fluktuasi emosional, dan meningkatkan kualitas valuasi.
Selain membawa dana, arus modal asing juga dinilai membawa standar tata kelola, disiplin pengungkapan informasi, dan dorongan reformasi. Karena itu, agenda seperti peningkatan kapasitas perusahaan sekuritas dan manajer investasi, pengembangan arus modal hijau dan berkelanjutan, serta penguatan infrastruktur pasar diposisikan sebagai bagian inti dari strategi memperluas permintaan.
Dalam konferensi pelaksanaan tugas pengembangan pasar saham 2026 yang diselenggarakan Kementerian Keuangan bersama Komisi Sekuritas, Menteri Keuangan Nguyen Van Thang menilai pasar saham Vietnam secara bertahap menegaskan perannya sebagai salah satu saluran penting mobilisasi modal jangka menengah dan panjang. Ia menyebut kontribusinya antara lain dalam mendorong privatisasi perusahaan milik negara, meningkatkan transparansi operasi bisnis, dan memperbaiki efisiensi alokasi sumber daya.
Menteri juga menekankan bahwa capaian periode sebelumnya menjadi dasar untuk kemajuan berikutnya melalui penggabungan reformasi kebijakan, teknologi, transparansi, dan perlindungan investor. Kementerian Keuangan menyatakan komitmen untuk terus menyempurnakan kerangka hukum, meningkatkan transparansi informasi, mendorong reformasi, dan melindungi hak investor. Menurutnya, ketika perusahaan memiliki lebih banyak peluang menghimpun modal, investor lebih terlindungi, pelanggaran ditindak tegas, dan infrastruktur operasional makin modern, pasar saham diharapkan tumbuh bukan hanya dari sisi ukuran, tetapi juga kualitas.