Pasar keuangan global cenderung stabil setelah gejolak pada sesi sebelumnya. Obligasi pemerintah Jepang dilaporkan pulih, mendorong kenaikan pada obligasi lainnya. Pada saat yang sama, pelemahan di pasar saham dan dolar AS terhenti.
Namun, emas menjadi pengecualian. Logam mulia itu disebut terus mencetak rekor tertinggi baru, yang didorong terutama oleh ketidakpastian geopolitik yang berlanjut.
Analis valuta asing BBH menilai perubahan lanskap global ikut memperkuat daya tarik emas. Mereka menggambarkan dunia yang bergerak dari tatanan unipolar menuju multipolar, sehingga politik global dinilai semakin diperebutkan dan lebih rentan terhadap krisis. Dalam konteks itu, Perdana Menteri Kanada Mark Carney dikutip menyatakan tatanan internasional berbasis aturan mengalami “keretakan, bukan transisi”, ketika “kekuatan besar” mulai menggunakan integrasi ekonomi sebagai alat tekanan—mulai dari tarif sebagai leverage, infrastruktur keuangan sebagai paksaan, hingga rantai pasokan sebagai kerentanan yang bisa dieksploitasi.
Menurut BBH, emas diuntungkan dalam tatanan dunia seperti ini karena tidak memiliki keterkaitan langsung dengan kebijakan ekonomi negara tertentu, dinilai tahan terhadap krisis, serta dipandang mampu menjaga nilai riil dalam jangka panjang.
Di sisi lain, perhatian pasar sempat tertuju pada kabar dari Denmark. Dana pensiun AkademikerPension menyatakan akan menjual kepemilikan obligasi Treasury AS, yang nilainya sekitar US$100 juta pada akhir bulan, dengan alasan “keuangan pemerintah AS yang buruk”. BBH menilai efek sinyal dari kabar tersebut lebih besar dibanding dampak ekonomi dasarnya. Secara keseluruhan, kepemilikan Denmark atas obligasi Treasury AS jangka panjang disebut hanya sekitar 0,10% dari total kepemilikan asing dan 0,03% dari total sekuritas Treasury yang beredar.
BBH juga menyoroti spekulasi bahwa Zona Euro dapat “mempersenjatai” kepemilikan obligasi pemerintah jika ketegangan dagang dengan AS meningkat. Mereka menilai gagasan itu berlebihan dan tidak kredibel. Meski demikian, dalam jangka panjang, BBH memperingatkan bahwa hilangnya kepercayaan terhadap kebijakan perdagangan dan keamanan AS, ditambah campur tangan politik terhadap independensi Federal Reserve, berisiko mempercepat penurunan peran dolar sebagai mata uang cadangan utama. Kondisi tersebut dinilai menjadi hambatan struktural bagi dolar AS.

