BERITA TERKINI
Pakar UNAIR: Susun Prioritas dan Anggaran agar Pengeluaran Lebaran Tak Membengkak

Pakar UNAIR: Susun Prioritas dan Anggaran agar Pengeluaran Lebaran Tak Membengkak

Masyarakat umumnya meningkatkan konsumsi menjelang Hari Raya Idulfitri. Berbagai kebutuhan dibeli untuk menyambut momen kebersamaan, mulai dari pakaian baru, kue kering, hingga perlengkapan mudik.

Selain itu, tradisi seperti halal bihalal, reuni, dan silaturahmi keluarga besar kerap membuat pengeluaran lebih tinggi dibanding hari biasa.

Menanggapi fenomena tersebut, Pakar Ekonomi Universitas Airlangga (UNAIR) Prof. Tika Widiastuti menilai peningkatan konsumsi menjelang Idulfitri merupakan hal yang wajar. Menurutnya, ada banyak aktivitas khas hari raya yang tidak terjadi pada hari-hari biasa, seperti mudik, halal bihalal, dan reuni keluarga, sehingga membutuhkan biaya lebih.

Ia menjelaskan, pengeluaran saat lebaran tidak selalu berarti perilaku konsumtif. Dari perspektif ekonomi, perilaku konsumtif terjadi ketika seseorang membeli sesuatu bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan keinginan. “Biasanya hal ini dipengaruhi oleh tren, keinginan untuk meningkatkan status sosial, atau sekadar mengikuti ajakan lingkungan,” jelasnya dalam keterangan tertulis.

Tika juga menyoroti kesalahan finansial yang kerap terjadi menjelang hari besar, yaitu tidak memprioritaskan kebutuhan utama. Dalam praktiknya, masyarakat sering langsung memenuhi berbagai kebutuhan tanpa menyusun skala prioritas.

Ia merujuk pembagian kebutuhan dalam ekonomi Islam yang terdiri dari tiga tingkatan: dharuriyah (kebutuhan pokok), hajiyah (kebutuhan penunjang), dan tahsiniyah (kebutuhan pelengkap). Menurutnya, kekeliruan yang sering terjadi adalah kecenderungan memenuhi keinginan. “Kalau di ekonomi islam, kebutuhan terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu dharuriyah (kebutuhan pokok), hajiyah (kebutuhan penunjang), dan tahsiniyah (kebutuhan pelengkap). Kesalahannya itu adalah cenderung pada pemenuhan atau pemuasan keinginan karena yang disebut keinginan itu apabila itu dipenuhi sebenarnya biaya yang dikeluarkan itu tidak sebanding dengan benefitnya,” imbuhnya.

Untuk menghindari pengeluaran berlebihan, Tika menekankan pentingnya perencanaan keuangan sebelum lebaran. Ia menyarankan masyarakat menyusun daftar kebutuhan, seperti biaya transportasi mudik, biaya makanan saat hari raya, hingga oleh-oleh untuk keluarga.

Ia juga mengingatkan agar penggunaan pemasukan tambahan tetap dibatasi. “Kalau kalian punya pemasukan tambahan, yang boleh dipakai hanya sekitar 70 persen untuk kebutuhan lebaran, sementara sisanya bisa disimpan untuk kebutuhan tidak terduga. Kalian bisa mulai dengan mencatat kebutuhan lebaran apa saja, lalu pisahkan anggaran kebutuhan lebaran dari rekening utama agar pengeluaran lebih terkontrol,” tegasnya.