Surabaya—Harga emas Antam (Logam Mulia) menunjukkan tren kenaikan tajam sepanjang 2025 hingga awal 2026. Beberapa hari lalu, harga jual emas sempat menembus di atas Rp3.100.000 per gram. Dalam setahun terakhir, kenaikan harga emas diperkirakan mencapai 50 hingga 60 persen.
Pakar Ekonomi Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya, Dr. Dra. Nanik Linawati, MM., menilai lonjakan tersebut bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan mencerminkan meningkatnya kecemasan investor terhadap ketidakpastian ekonomi global. Meski begitu, dalam beberapa waktu terakhir harga emas juga terlihat mengalami koreksi.
Menurut Nanik, pergerakan harga emas dapat dilihat dalam dua fase, yakni jangka pendek dan jangka panjang. Ia menyebut penyebab naik-turunnya harga emas saat ini sangat kompleks, mulai dari eskalasi konflik di berbagai kawasan, kebijakan tarif tinggi dari pemimpin dunia, hingga retorika politik Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump yang turut membentuk iklim investasi yang ia sebut “liar”.
Dalam jangka pendek, Nanik memperkirakan harga emas masih berpeluang turun tipis. “Ini wajar, karena sebagian investor mulai menjual emas mereka untuk mengambil keuntungan (profit taking), seiring dengan inflasi yang mulai terkendali dan sentimen pasar yang berangsur membaik,” ujarnya di Surabaya, Senin (9/2/2026).
Namun dalam jangka panjang, ia memprediksi harga emas cenderung tetap naik. Faktor pendorongnya antara lain ketegangan politik, penurunan kondisi ekonomi global, serta persoalan demografi dunia.
Nanik juga menyoroti apa yang ia sebut sebagai anomali pasar. Ia menilai perekonomian global sedang berada dalam fase “tidak normal”, sehingga pergerakan emas tidak lagi mengikuti pola yang lazim.
Ia menjelaskan, emas memiliki karakter kelangkaan yang berbeda dibanding instrumen lain seperti saham atau kripto. “Investasi emas ini sifatnya langka, tidak dapat dimanipulasi oleh kebijakan otoritas manapun. Berbeda dengan instrumen lain seperti saham atau kripto yang suplainya dapat diatur. Emas tidak bisa muncul secara tiba-tiba,” katanya.
Menurutnya, penambahan pasokan emas baru membutuhkan waktu panjang karena terikat proses eksplorasi dan penambangan. Kelangkaan alami itulah yang membuat emas kerap menjadi tempat berlindung (safe haven) ketika instrumen investasi lain dinilai kehilangan arah.
Nanik menilai meroketnya harga emas dapat menjadi “sinyal merah” bagi perekonomian global. Ia menyebut kenaikan ini tidak lagi didorong permintaan normal perhiasan, melainkan krisis kepercayaan investor yang mulai meninggalkan aset produktif seperti saham, kripto, hingga deposito untuk menjaga nilai kekayaan.
“Lonjakan tidak wajar ini jadi indikator kuat bahwa dunia tengah bergerak ke ambang resesi. Selama ketegangan geopolitik bergejolak, harga emas akan terus mencari level tertinggi baru sebagai tempat bersandar para pemilik modal,” ujarnya.
Menutup analisisnya, dosen pengampu Mata Kuliah Keuangan Personal itu menggambarkan kondisi ekonomi dunia saat ini sebagai “benang kusut”. Ia mengingatkan investor agar tetap tenang dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan di tengah situasi yang tidak menentu.

