Pengembangan proyek PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) diperkirakan berisiko tersendat apabila target produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 hanya disetujui 30% dari permintaan. Penilaian tersebut disampaikan pakar industri mineral dan batu bara terkait dampaknya terhadap rencana hilirisasi nikel perusahaan.
Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy Hartono menilai, jika angka 30% itu menjadi keputusan final untuk sepanjang tahun, kondisi tersebut akan memengaruhi rencana pembangunan smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) Vale di Pomalaa dan Bahodopi.
Menurut Sudirman, proyek smelter Pomalaa memerlukan pasokan sekitar 21 juta ton bijih nikel kadar rendah atau limonit. Sementara itu, proyek Bahodopi membutuhkan sekitar 10,4 juta ton limonit.
“Menurut kami memang akan sangat memengaruhi kelanjutan rencana pengembangan proyek hilirisasi nikel yang saat ini sedang dilakukan oleh Vale,” kata Sudirman saat dihubungi, Rabu (21/1/2026).
Ia menambahkan, Vale saat ini mengembangkan dua proyek hilirisasi untuk nikel limonit, yakni proyek pembangunan HPAL di Pomalaa dan Morowali, yang dijadwalkan rampung secara mekanis pada 2026 dan diharapkan mulai berproduksi.

