JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan stabilitas sektor jasa keuangan pada awal tahun ini tetap terjaga di tengah dinamika global. Meski demikian, OJK menyoroti sejumlah risiko eksternal yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar, termasuk konflik di Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).
Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan peningkatan tensi geopolitik dan fragmentasi geoekonomi pada awal 2026 menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai. Selain Timur Tengah, ia juga menyinggung dinamika kebijakan perdagangan di AS sebagai potensi risiko penurunan (downside risk) yang dapat memicu gejolak di pasar keuangan global.
“Peningkatan tensi geopolitik dan juga fragmentasi geoekonomi pada awal 2026, termasuk di Timur Tengah serta dinamika kebijakan perdagangan di AS menjadi downside risk yang berpotensi meningkatkan volatilitas di pasar keuangan secara global,” ujar Friderica dalam konferensi pers di Gedung Menara Radius Prawiro OJK, Selasa (3/3/2026).
Friderica menjelaskan, perkembangan geopolitik dan ekonomi global menjadi faktor risiko utama saat ini. Ia menyebut kinerja ekonomi AS pada kuartal IV-2025 tercatat tumbuh 1,4%, lebih rendah dari ekspektasi pasar, di tengah tekanan inflasi yang kembali meningkat.
Di sisi kebijakan moneter, Friderica menambahkan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS mulai berkurang. Hal itu seiring munculnya kecenderungan suku bunga tinggi bertahan lebih lama atau higher for longer. Menurutnya, kondisi tersebut dapat memperketat likuiditas global dan memengaruhi arus modal ke negara berkembang.
Tekanan eksternal, lanjut Friderica, juga datang dari Asia, terutama China. Negara tersebut masih menghadapi tantangan di sektor properti meski kinerja ekspornya mencatat surplus. Situasi ini menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi kawasan.

