Kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Utara (Sulut) dan Gorontalo hingga 31 Desember 2025 tercatat tumbuh positif di hampir seluruh sektor. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan kondisi industri keuangan di dua provinsi tersebut tetap terjaga, meski ada perlambatan dan penurunan pada sektor tertentu.
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo, Robert H.P. Sianipar, mengatakan pertumbuhan terlihat pada sektor perbankan, pasar modal, hingga pembiayaan. Hal itu ia sampaikan dalam kegiatan Media Update pada Rabu (4/3/2026).
Di sektor perbankan, Sulut mencatat pertumbuhan aset sebesar 8,65 persen, dana pihak ketiga (DPK) 10,87 persen, dan kredit 6,14 persen. Sementara di Gorontalo, pertumbuhan aset tercatat 5,87 persen, DPK 5,60 persen, dan kredit 3,19 persen.
Dari sisi risiko, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) masih berada di bawah batas aman. NPL per 31 Desember 2025 tercatat 2,77 persen di Sulut dan 3,60 persen di Gorontalo.
Pada industri pasar modal, jumlah investor yang tercatat melalui single investor identification (SID) per November 2025 juga meningkat secara tahunan (year on year). Di Sulut, jumlah investor tumbuh 26,97 persen, sedangkan di Gorontalo naik 31,85 persen.
Selain itu, nilai transaksi saham melonjak signifikan. Sulut mencatat kenaikan 141,90 persen, sementara Gorontalo meningkat 213,26 persen.
Meski demikian, Robert menyebut terdapat sektor yang mengalami perlambatan atau penurunan, yakni Asuransi Jiwa, Asuransi Umum, dan Modal Ventura. Perlambatan tersebut ditandai dengan penurunan premi serta penyaluran pembiayaan.

