JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencermati potensi terjadinya arus keluar modal (capital outflow) dalam jangka pendek di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS)-Israel yang mengguncang pasar keuangan global.
Pjs. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan OJK akan melakukan pemantauan intensif terhadap likuiditas dan risiko pasar. OJK juga berkoordinasi bersama lembaga lain dalam koridor dan forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk memastikan stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga.
Hasan menilai fundamental perekonomian Indonesia saat ini relatif stabil dengan indikator makro yang terjaga. Meski demikian, ia menekankan perlunya kewaspadaan terhadap potensi transmisi risiko melalui volatilitas dan sentimen global yang terus berkembang.
Menurut dia, tekanan pasar akibat eskalasi geopolitik tidak hanya terjadi di pasar saham Indonesia, tetapi juga berdampak pada pasar regional dan global. OJK mencatat mayoritas indeks utama pasar saham dunia mengalami pelemahan pada awalnya sebagai respons atas meningkatnya ketidakpastian global, yang sebelumnya telah diantisipasi investor melalui penyesuaian sentimen risiko.
Hasan menjelaskan pasar saham umumnya merespons lebih cepat karena investor melakukan penilaian risiko dan penyesuaian portofolio lebih awal. Dalam konteks ini, volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) disebut sebagai bagian dari transmisi global yang dinilai “normal” sebagai respons awal investor terhadap eskalasi konflik dan dinamika geopolitik.
Untuk menjaga stabilitas pasar, OJK bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) menyiapkan sejumlah kebijakan dan instrumen yang masih berlaku. Di antaranya kebijakan buyback saham tanpa persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS) dalam kondisi tertentu, penerapan mekanisme auto rejection bawah untuk menahan pelemahan harga saham tertentu, serta opsi penerapan trading halt apabila terjadi kepanikan dan kondisi pasar yang bergerak satu arah (one-sided market) disertai tekanan signifikan.
Hasan juga mengingatkan bahwa stabilitas pasar sangat dipengaruhi perilaku dan respons investor. OJK mengimbau investor tetap rasional, mencermati perkembangan terbaru, serta mempertimbangkan risiko dan fundamental saham sebelum mengambil keputusan investasi di tengah dinamika global.
Belajar dari pengalaman meningkatnya tensi geopolitik sebelumnya, ia menyebut investor cenderung mereposisi portofolio ke aset safe haven seperti emas, valuta asing yang lebih stabil, serta obligasi pemerintah domestik maupun negara maju, sembari mengambil sikap wait and see untuk memantau perkembangan situasi.
Pada penutupan perdagangan Selasa sore, IHSG melemah seiring kekhawatiran pelaku pasar terhadap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. IHSG ditutup turun 77,06 poin atau 0,96 persen ke posisi 7.939,77. Sementara indeks LQ45 melemah 6,89 poin atau 0,85 persen ke posisi 805,59.

