Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencermati perkembangan konflik antara Israel-AS dan Iran yang memicu gejolak di pasar keuangan global. Penjabat Sementara (Pjs) Ketua Dewan Komisioner OJK, Frederica Widyasari Dewi, mengatakan lembaganya menaruh perhatian pada tiga kemungkinan jalur transmisi dampak ketegangan geopolitik tersebut terhadap pasar keuangan.
Hal itu disampaikan Frederica—yang akrab disapa Kiki—dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Februari 2026 di Kompleks Bank Indonesia (BI), Jakarta, Selasa (3/3/2026). Menurutnya, jalur pertama yang diwaspadai adalah potensi kenaikan harga minyak, terutama jika terjadi penutupan Selat Hormuz dalam waktu berkepanjangan.
“Jika penutupan Selat Hormuz terjadi dan berkepanjangan, tentu berisiko karena sekitar 30 persen suplai minyak dunia lewat jalur tersebut, termasuk LNG yang juga cukup signifikan. Sehingga kita mengantisipasi dampak rambatannya,” kata Kiki.
Jalur kedua, OJK menilai ketegangan geopolitik dapat mendorong kenaikan inflasi global di tengah tingginya ketidakpastian. Kondisi ini dinilai berpotensi memengaruhi respons kebijakan bank sentral, termasuk arah suku bunga acuan (BI-Rate) di Indonesia.
“Kita harus melihat bagaimana dampaknya terhadap pengetatan likuiditas di pasar keuangan global serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi. Kita juga mencermati potensi persaingan dalam memperebutkan aliran dana global. Karena itu, kita harus memastikan kesiapan di dalam negeri agar mampu menghadapi eksposur global yang tinggi,” ujarnya.
Jalur ketiga yang menjadi perhatian OJK adalah meningkatnya ketidakpastian yang mendorong fenomena flight to quality atau perpindahan dana ke instrumen yang dipandang lebih aman, seperti emas. Dalam situasi tersebut, Kiki menekankan pentingnya integritas dan likuiditas pasar saham di negara berkembang, termasuk Indonesia, agar tetap kompetitif dan menarik bagi aliran modal asing.
“Dan kita akan terus melakukan reformasi struktural untuk memperkuat fundamental sektor keuangan Indonesia, termasuk melanjutkan program reformasi guna meningkatkan integritas dan likuiditas pasar,” kata Kiki.
Ia menambahkan, OJK bersama Self Regulatory Organization (SRO) telah menyiapkan serangkaian instrumen kebijakan yang dapat diaktifkan apabila diperlukan di tengah fluktuasi pasar. OJK juga meminta lembaga jasa keuangan untuk terus memantau dinamika global, mengkaji potensi dampaknya, memperkuat manajemen risiko, serta melakukan stress testing dalam berbagai skenario.
“Kami juga meminta lembaga jasa keuangan untuk terus memonitor dinamika global, termasuk potensi dampaknya, serta memperkuat manajemen risiko dan melakukan stress testing dalam berbagai skenario,” tegasnya.

