BERITA TERKINI
Musim Dingin Ekstrem Ganggu Energi dan Transportasi, Tekanan Ekonomi Global Menguat

Musim Dingin Ekstrem Ganggu Energi dan Transportasi, Tekanan Ekonomi Global Menguat

JAKARTA – Musim dingin ekstrem yang melanda Amerika Serikat (AS) dan Polandia kembali menyoroti dampak cuaca ekstrem yang tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga berimbas pada keselamatan manusia serta stabilitas ekonomi. Gangguan pada transportasi dan sistem energi di AS dinilai berpotensi memperbesar volatilitas harga komoditas dan menambah tekanan inflasi global, sementara tingginya korban jiwa di Polandia menegaskan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi suhu ekstrem.

Situasi tersebut memperkuat urgensi penguatan ketahanan infrastruktur, sistem energi, dan perlindungan sosial. Tanpa adaptasi yang memadai, risiko ekonomi dan kemanusiaan akibat krisis iklim disebut berpotensi berulang dan membesar.

Di AS, cuaca musim dingin yang parah mengganggu transportasi dan pasokan listrik. Lebih dari 1.200 penerbangan dilaporkan dibatalkan, sementara puluhan ribu warga di sejumlah negara bagian mengalami pemadaman listrik. Laporan Bloomberg pada Minggu (1/2) menyebut badai membawa hujan salju signifikan di beberapa negara bagian, dengan sebagian wilayah Carolina Utara mencatat tumpukan salju sekitar 10–99 sentimeter, baik di pedalaman maupun di sepanjang pantai.

Badan Layanan Cuaca Nasional menyatakan hujan salju diperkirakan mereda pada Minggu (1/2) siang waktu setempat seiring kondisi yang berangsur membaik. Meski sistem cuaca diperkirakan menguat di atas Atlantik, para peramal cuaca menilai dampak terparah akan tetap berada di lepas pantai.

Gelombang cuaca musim dingin terbaru memberi tekanan pada jaringan listrik AS, terutama di wilayah Carolina. Duke Energy, perusahaan listrik dan gas alam di Carolina Utara, meminta pelanggan membatasi penggunaan listrik pada jam-jam puncak pada Senin (2/2) sebagai langkah pencegahan pemadaman sementara. Bloomberg juga mencatat pemadaman masih terjadi di sejumlah wilayah Selatan, dipicu kerusakan akibat es dari badai sebelumnya yang merobohkan saluran transmisi.

Berdasarkan data pemantauan pemadaman listrik, hampir 178.000 rumah dan bisnis di beberapa negara bagian masih tanpa aliran listrik. Gangguan perjalanan udara juga berlanjut, dengan Bandara Internasional Charlotte Douglas melaporkan jumlah pembatalan penerbangan tertinggi.

Sementara itu di Polandia, lebih dari 50 orang dilaporkan meninggal sejak awal musim dingin akibat suhu udara yang sangat rendah. Wakil Menteri Dalam Negeri dan Administrasi Polandia, Wieslaw Szczepanski, menyebut gelombang embun beku parah telah mencapai puncaknya. Ia menyampaikan terdapat informasi mengenai 54 kematian dan 36 orang mengalami hipotermia.

Menurutnya, warga yang tinggal di bangunan terbengkalai kerap menjadi korban cuaca dingin ekstrem. Pemerintah kembali mengimbau mereka untuk berpindah ke tempat yang lebih hangat. Szczepanski juga menyebut malam berikutnya diperkirakan menjadi yang terdingin di Polandia sejak awal musim dingin.

Di AS, laporan lain menyebut jumlah korban tewas akibat badai salju meningkat menjadi sedikitnya 51 orang, sebagaimana diberitakan NBC. Associated Press sebelumnya melaporkan 42 kematian akibat cuaca buruk. Peringatan suhu sangat rendah disampaikan kepada jutaan warga dari wilayah Great Lakes hingga Gulf Coast.

Situs Poweroutage mencatat jumlah rumah yang mengalami pemadaman listrik akibat badai salju mencapai sekitar 400.000 rumah, dengan mayoritas berada di wilayah selatan. ABC melaporkan badai salju berdampak pada lebih dari 200 juta orang, disertai pembatalan ribuan penerbangan dan meningkatnya kecelakaan di jalan akibat kondisi licin.