BERITA TERKINI
Muhammadiyah Diminta Perkuat Pilar Ekonomi untuk Hadapi Ketidakpastian Global

Muhammadiyah Diminta Perkuat Pilar Ekonomi untuk Hadapi Ketidakpastian Global

SLEMAN — Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhadjir Effendy menilai dinamika global yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian menuntut Muhammadiyah meningkatkan kepekaan kolektif dalam merespons perubahan. Ia menegaskan bahwa membawa Muhammadiyah menghadapi tantangan ke depan bukan perkara sederhana.

Pesan itu disampaikan Muhadjir saat pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Seminar Nasional Outlook Perekonomian Indonesia 2026 di Hotel Hyatt Yogyakarta, Palagan Tentara Pelajar, Sleman, Kamis (5/2). Menurutnya, ketidakpastian sudah menjadi kondisi yang lazim dan perlu menjadi perhatian bersama.

“Harus menjadi ukuran kita untuk berdaptasi agar kita survive (bertahan hidup),” kata Muhadjir. Ia juga menyinggung munculnya era VUCA—volatility (volatilitas), uncertainty (ketidakpastian), complexity (kompleksitas), dan ambiguity (ambiguitas)—sebagai gambaran perubahan dunia yang bergerak cepat dan sulit diprediksi.

Dalam konteks itu, Muhadjir menekankan pentingnya Muhammadiyah menyongsong era VUCA dengan menguatkan pilar ketiga Persyarikatan, yakni pilar ekonomi. Ia menyebut ketahanan organisasi ke depan sangat bergantung pada kekuatan sektor tersebut.

“Kalau pilar ketiga itu kokoh, kita bisa enak itu,” ujarnya. Muhadjir mendorong kolaborasi seluruh pihak untuk membangun pilar ekonomi, sembari mengingatkan agar tidak menunggu pihak lain bergerak terlebih dahulu. “Jangan menunggu orang lain. Kalau kita tidak bergerak, kita tidak bisa berbuat banyak,” katanya.

Ia menegaskan penguatan pilar ekonomi bukan hanya untuk kebutuhan Muhammadiyah saat ini, melainkan untuk keberlanjutan dan dampak jangka panjang. “Kita bicara visi Muhammadiyah ke depan. Jadi, Muhammadiyah ini tidak akan survival kalau tidak didukung dengan kekuatannya yang dahsyat, yang kuat, di sektor ekonomi,” kata Muhadjir.

Muhadjir juga mengaitkan pentingnya ekonomi dengan sejarah awal gerakan Muhammadiyah. Menurutnya, denyut dakwah Muhammadiyah pada masa awal tidak terlepas dari peran ekonom, pelaku usaha, dan pedagang. Ia menyebut sejak awal Muhammadiyah sudah memikirkan aspek ekonomi, termasuk mendorong putra Kiai Dahlan, Raden Haji Dhurie, untuk menekuni dunia usaha hingga belajar ke Eropa.

Melalui penguatan pilar ekonomi, Muhadjir berharap Muhammadiyah dapat melahirkan kesejahteraan bagi masyarakat. Ia pun mengajak seluruh elemen Persyarikatan untuk memberi dukungan dan bekerja keras memperkokoh sektor tersebut di masa depan.