PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX) menetapkan arah bisnis 2026 dengan menempatkan segmen baby care sebagai mesin pertumbuhan utama, disertai diversifikasi produk secara selektif pada kategori personal care dan adult care. Perusahaan menargetkan pertumbuhan yang terkontrol dan berkualitas, sejalan dengan dinamika pasar fast moving consumer goods (FMCG) yang pada 2026 diproyeksikan tumbuh 6–9% dibandingkan 2025.
MMIX memperkirakan pasar baby & child care tumbuh 8–11% dengan nilai mencapai US$1,8 miliar pada 2026. Sementara itu, segmen personal care & beauty diproyeksikan tumbuh 9–12% menjadi US$2,5 miliar. Manajemen memproyeksikan kontribusi penjualan segmen mom & baby yang diproduksi perseroan tetap dominan, sekitar 40–50% dari total pendapatan 2026, dengan dukungan peningkatan produktivitas pabrik popok bayi dan dewasa.
Di luar popok, lini tisu basah dan produk hygiene diperkirakan menyumbang 15–20% terhadap pendapatan 2026. Proyeksi ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap produk kebersihan dan kebutuhan harian.
MMIX menilai perubahan perilaku belanja konsumen, terutama Gen Z dan Alpha, makin terlihat dari data penjualan periode 2023–2025. Menurut perusahaan, kelompok konsumen ini semakin berperan sebagai smart buyer karena akses informasi yang luas dan kemandirian dalam mengambil keputusan. Dampaknya, konsumen dinilai lebih rasional, berorientasi pada value, serta menunjukkan preferensi yang meningkat terhadap produk yang praktis dan multifungsi.
Untuk merespons tren tersebut, fleksibilitas kemasan seperti small pack maupun value pack dinilai semakin relevan. Di saat yang sama, dominasi kanal digital dan pendekatan omnichannel memperkuat perubahan pola belanja, sehingga MMIX menyatakan perlu menyesuaikan strategi produk FMCG 2026 agar lebih adaptif, transparan, dan selaras dengan perilaku konsumen yang semakin cerdas dan informatif.
Dalam jangka menengah hingga panjang, MMIX menargetkan transformasi menjadi perusahaan FMCG berbasis manufaktur dan brand, dengan pertumbuhan pendapatan 10–15% per tahun pada periode 2026–2030. Perseroan juga menargetkan struktur pendapatan yang semakin seimbang antara segmen mom & baby, hygiene, dan beauty care, dengan fokus pada diferensiasi produk, efisiensi manufaktur lokal, serta penguatan profitabilitas dan arus kas.
Direktur Utama MMIX Mengky Mangarek menjelaskan perbedaan house brand dan private label terletak pada tingkat kontrol serta arah strategis pengembangan produk. “Pada house brand, perusahaan memiliki kendali penuh terhadap inovasi, kualitas, positioning, hingga pengelolaan brand jangka panjang, sementara private label lebih berfokus pada pemenuhan kebutuhan mitra ritel dengan spesifikasi tertentu,” ujarnya dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia, dikutip di Jakarta, Minggu (25/1/2026).
Mengky juga menyampaikan private label di Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang signifikan seiring konsumen yang semakin rasional, berorientasi pada value, dan terbuka terhadap alternatif produk dengan kualitas yang kompetitif. Namun, menurutnya, pertumbuhan itu akan sangat ditentukan oleh konsistensi kualitas, efisiensi biaya, serta kemampuan mitra manufaktur dalam menjaga standar produk secara berkelanjutan.
Sementara itu, manajemen MMIX menegaskan keberhasilan turnaround kinerja sepanjang 2025 setelah membalikkan posisi rugi menjadi laba Rp2,1 miliar pada kuartal III 2025. Pencapaian tersebut didorong efisiensi biaya produksi, logistik, dan operasional, perbaikan bauran produk, strategi pengelolaan persediaan yang lebih disiplin, penguatan jaringan distribusi serta penetrasi pasar, hingga fokus pada kualitas pendapatan.
Pada kuartal III 2025, pendapatan MMIX tercatat tumbuh 85% menjadi Rp137,9 miliar dibandingkan periode yang sama 2024. Segmen baby care, khususnya popok bayi, menjadi kontributor utama pertumbuhan, sementara segmen personal care turut menopang kinerja melalui peningkatan permintaan pasar dan strategi distribusi yang lebih optimal.
Manajemen menyatakan komitmen menjaga momentum profitabilitas hingga akhir tahun buku 2025 melalui pengendalian biaya berkelanjutan tanpa menurunkan kualitas, fokus pada produk dengan margin sehat, distribusi yang efisien, serta pengelolaan persediaan yang ketat. Tahun 2025 diposisikan sebagai fase pemulihan fundamental dengan target laba berkelanjutan dan margin yang semakin sehat melalui pendekatan yang tetap prudent.

