Jakarta — Pemerintah Indonesia menegaskan kesepakatan keamanan terbaru antara Indonesia dan Australia tidak diarahkan untuk merespons negara tertentu, termasuk China. Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan kerja sama yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese merupakan penguatan mekanisme komunikasi strategis antarpemimpin kedua negara.
“Jadi itu adalah merupakan media konsultasi antarpemimpin kedua negara dalam rangka menghadapi perkembangan situasi di wilayah Indo-Pasifik. Jadi building blocks-nya adalah Lombok Declaration dan DCA Defense Cooperation Agreement antara kedua negara,” ujar Sugiono di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Sabtu (15/11/2025).
Sugiono juga membantah anggapan bahwa kesepakatan tersebut menyerupai perjanjian keamanan 1995 pada era Presiden Soeharto yang kala itu dikaitkan dengan dinamika China. “Nggak, dari mana respons dengan China?” katanya saat ditanya mengenai konteks sejarah perjanjian tersebut.
Ia menegaskan kembali bahwa tidak ada negara tertentu yang menjadi sasaran dari kerja sama ini. Menurut Sugiono, fokus utama Indonesia dan Australia adalah memperkuat jalur komunikasi dan koordinasi keamanan yang lebih terbuka dan efektif di kawasan Indo-Pasifik.
“Itu tadi, saya kira ini adalah merupakan bentuk kerja sama yang lebih intensif. Ini kan jalur media konsultasi, Australia merupakan tetangga kita, kita tidak bisa memilih siapa tetangga kita, apa yang terjadi di wilayah ya memengaruhi semuanya,” ujarnya.
Kesepakatan keamanan itu diumumkan sehari sebelumnya oleh Presiden Prabowo dan PM Albanese di atas kapal HMAS Canberra di Sydney. Dalam kesepakatan tersebut, kedua negara menyepakati peningkatan frekuensi konsultasi rutin di level pemimpin hingga menteri, penguatan koordinasi pertahanan, serta respons kolektif terhadap tantangan strategis di Indo-Pasifik.
Sugiono menambahkan Indonesia memandang Australia sebagai mitra penting dalam menjaga stabilitas kawasan. Ia menegaskan pendekatan yang dikedepankan tetap bertumpu pada diplomasi, konsultasi, dan penghormatan antarnegara.
“Kita ingin kerja sama lebih intensif lagi. Jadi intinya kalau misalnya ada sesuatu yang perlu dibicarakan terkait masalah keamanan itu ada konsultasi,” kata Sugiono.

