BERITA TERKINI
Menjelang Transisi Kepemimpinan, Buffett Tambah 6 Saham Ini ke Portofolio Berkshire

Menjelang Transisi Kepemimpinan, Buffett Tambah 6 Saham Ini ke Portofolio Berkshire

Transisi kepemimpinan di Berkshire Hathaway menandai berakhirnya sebuah era di pasar modal global. Warren Buffett disebut akan menyerahkan jabatan CEO pada awal 2026, namun sebelum proses transisi rampung, ia masih melakukan penyesuaian penting pada portofolio investasi perusahaan.

Berdasarkan laporan kuartal terbaru dan dokumen 13F yang diajukan ke Securities and Exchange Commission (SEC), Berkshire tercatat mengeksekusi pembelian saham senilai US$ 6,4 miliar atau setara Rp 107,37 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.777 per dolar AS). Langkah ini menjadi perhatian karena dalam 12 kuartal terakhir Berkshire lebih sering melakukan aksi jual dibandingkan pembelian.

Dari dokumen tersebut, terdapat enam emiten Amerika Serikat yang menjadi tujuan penempatan dana baru Berkshire. Sejumlah saham merupakan penambahan posisi, sementara sebagian lainnya menjadi pembelian baru.

Enam saham yang dibeli atau ditambah kepemilikannya oleh Berkshire meliputi Alphabet (GOOG, GOOGL) dengan kepemilikan 17,8 juta saham, Chubb (CB) dengan penambahan 4,3 juta saham, Sirius XM (SIRI) dengan penambahan 5 juta saham, Domino’s Pizza (DPZ) dengan tambahan 348.000 saham, Lamar Advertising dengan tambahan 32.603 saham, serta Lennar dengan penambahan 2.007 saham yang terdiri dari saham Kelas A dan Kelas B.

Penambahan posisi pada Domino’s Pizza dan Sirius XM disebut menunjukkan konsistensi strategi tim Buffett dalam beberapa tahun terakhir. Domino’s dinilai tetap unggul di industri makanan cepat saji, dengan pertumbuhan penjualan toko yang sama (same-store sales) di Amerika Serikat naik 5,2% pada kuartal ketiga dan melampaui rata-rata kompetitor. Sementara Sirius XM dipandang menarik karena arus kas dan laba yang lebih dapat diprediksi dari pendapatan berbasis langganan.

Di antara seluruh transaksi tersebut, masuknya Alphabet ke portofolio Berkshire menjadi sorotan utama. Alphabet dipandang bukan tipe saham teknologi yang identik dengan preferensi Buffett, namun sejumlah analis menilai kekuatan bisnis mesin pencari Google menjadi alasan penting di balik keputusan itu.

Alphabet disebut telah mampu mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam sistem pencarian tanpa mengganggu monetisasi iklan. Strategi ini dikaitkan dengan percepatan pertumbuhan pendapatan iklan Google yang mencapai 15% pada kuartal terbaru.

Secara operasional, bisnis iklan inti Alphabet membantu perusahaan mencetak arus kas bebas (free cash flow) sebesar US$ 73,5 miliar atau sekitar Rp 1.233 triliun dalam 12 bulan terakhir. Meski Alphabet melakukan belanja modal besar untuk membangun pusat data guna mendukung Google Cloud, margin operasional perusahaan tetap berada di level 24% pada kuartal terakhir.

Bagi investor, profil Alphabet dinilai mencerminkan bisnis dengan “parit ekonomi” (moat) yang luas, karakteristik yang kerap menjadi pertimbangan utama Buffett. Selain itu, kemampuan emiten untuk mengembalikan modal kepada pemegang saham turut menjadi faktor yang menarik bagi Berkshire. Alphabet kini menjalankan program pembelian kembali saham (buyback) serta membagikan dividen secara rutin, selaras dengan filosofi investasi Buffett yang menekankan keberlanjutan arus kas.

Meski valuasi Alphabet tidak lagi serendah saat Berkshire pertama kali membeli saham tersebut pada kuartal ketiga, kelipatan price-to-earnings (P/E) sekitar 29 kali saat ini disebut masih dinilai wajar, dengan mempertimbangkan pertumbuhan pendapatan Google Cloud yang konsisten berada di kisaran 30% setiap kuartalnya.