Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh memimpin sebuah konferensi yang membahas target pertumbuhan ekonomi dua digit sekaligus penghargaan terhadap perusahaan-perusahaan. Dalam pidato pembukaan, ia menyoroti bahwa periode 2021–2025 dijalani di tengah perubahan global dan regional yang kompleks, tidak terduga, dan belum pernah terjadi sebelumnya.
Menurutnya, dunia usaha menghadapi berbagai kesulitan, mulai dari gangguan rantai pasokan, kekurangan pasar, persoalan tarif, hingga dampak bencana alam seperti badai dan banjir. Meski demikian, ia menilai perekonomian tetap mampu melewati tantangan dan mencatat hasil yang penting serta komprehensif di berbagai bidang.
Perdana Menteri menyebut capaian tersebut didukung oleh kepemimpinan Partai, dukungan Majelis Nasional, arahan Pemerintah, keterlibatan seluruh sistem politik, serta upaya komunitas bisnis dan masyarakat. Ia menambahkan, secara umum setiap kuartal dinilai lebih baik dibanding kuartal sebelumnya, dan setiap tahun lebih baik daripada tahun sebelumnya, yang turut memperkuat potensi dan posisi Vietnam di tingkat internasional serta menjadi landasan bagi pembangunan pada periode ini.
Ia juga menyinggung bahwa dalam dua tahun terakhir masa jabatan, Politbiro telah mengeluarkan sembilan resolusi strategis. Resolusi-resolusi tersebut kemudian diajukan Pemerintah kepada Majelis Nasional untuk diinstitusionalisasikan dan diimplementasikan lebih awal, dengan tujuan membangun fondasi yang kuat bagi pertumbuhan dua digit pada periode 2026–2030.
Pham Minh Chinh menegaskan, pencapaian pertumbuhan dua digit membutuhkan upaya dan partisipasi aktif komunitas bisnis. Ia menyatakan Pemerintah akan mendengarkan masukan dunia usaha secara tulus, berbagi dan berkoordinasi secara langsung, bertindak melalui hasil nyata, serta menghapus kesulitan dan hambatan agar bisnis dapat berkontribusi dalam mencapai dua tujuan strategis untuk periode 100 tahun.
Dalam penjelasannya, ia menyebut sektor pertanian dan investasi asing pernah membantu Vietnam keluar dari kesulitan. Sementara itu, sektor industri dinilai telah mendorong Vietnam menjadi negara berpenghasilan menengah ke atas. Memasuki fase baru, pemerintah mengidentifikasi ilmu pengetahuan dan teknologi, inovasi, serta transformasi digital sebagai fondasi pembangunan, dengan tujuan menjadikan Vietnam sebagai negara maju berpenghasilan tinggi.
Ia menilai peran perusahaan semakin dihargai dan dihormati. Seiring perubahan persepsi, ia mengatakan pemikiran, metodologi, pendekatan, dan tindakan juga perlu menyesuaikan, dengan semangat bahwa sumber daya berasal dari pemikiran dan visi, motivasi dari inovasi dan kreativitas, serta kekuatan dari masyarakat dan bisnis.
Menatap periode 2026–2030, Perdana Menteri menyatakan Kongres Nasional Partai ke-14 kembali menegaskan target pertumbuhan rata-rata 10% atau lebih tinggi. Ia menyebut target itu sebagai mandat nasional untuk mengarahkan Vietnam menuju era baru yang ditandai oleh kekayaan, kemakmuran, peradaban, dan kesejahteraan.
Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan domestik dan internasional masih besar. Di antaranya meningkatnya proteksionisme perdagangan, konflik geopolitik, perubahan iklim, penuaan penduduk, penipisan sumber daya, serta transisi energi, yang disebutnya berpotensi menjadi hambatan utama.