Saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) menjadi perhatian menjelang 2026 karena dua faktor utama: volatilitas harga yang sempat berujung suspensi perdagangan, serta rencana aksi korporasi besar berupa rights issue (PMHMETD) dengan nilai maksimal Rp3,2 triliun. Kombinasi keduanya membuat prospek INET kerap dibahas, namun juga menuntut kehati-hatian karena risiko dilusi dan eksekusi ekspansi.
INET merupakan emiten infrastruktur telekomunikasi/teknologi yang berfokus pada layanan B2B, dengan banyak klien dari perusahaan penyedia layanan internet (ISP). Layanan yang kerap disebut mencakup pusat data interkoneksi, kolokasi, local loop/local access, hingga IP transit (NAP) melalui kerja sama dengan mitra, serta managed service. Dalam informasi era IPO, perusahaan juga pernah menyampaikan memiliki point of presence (POP) di sejumlah kota besar di Indonesia dan satu POP di Singapura.
Volatilitas dan suspensi perdagangan
Pergerakan saham INET sempat dinilai sangat cepat sehingga Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan langkah pendinginan melalui suspensi. Salah satu contoh yang disebut dalam pemberitaan adalah suspensi pada 3 Desember 2025 akibat kenaikan harga kumulatif signifikan, yang kemudian dibuka kembali mulai sesi I pada 10 Desember 2025 berdasarkan pengumuman BEI. INET juga disebut kembali diperdagangkan di papan Full Call Auction (FCA), yang dapat memengaruhi dinamika pembentukan harga.
Kondisi ini menjadi konteks penting untuk membaca pergerakan INET menuju 2026: volatilitas tinggi membuat pendekatan berbasis skenario lebih relevan dibanding menebak satu angka target harga.
Kinerja terbaru: lonjakan 9M 2025 dibanding 2024
Di sisi fundamental, pemberitaan menyebut INET membukukan pendapatan Rp68,6 miliar dan laba bersih Rp19,4 miliar pada periode 9M 2025. Angka tersebut terlihat menonjol jika dibandingkan dengan kinerja 2024, ketika pendapatan sekitar Rp30,44 miliar dan laba bersih sekitar Rp1,70 miliar.
Lonjakan ini menjadi bahan narasi pasar, namun tetap memunculkan pertanyaan kunci bagi investor: apakah pertumbuhan laba bersifat berulang (recurring) atau dipengaruhi faktor yang tidak berulang (one-off). Untuk memvalidasi kualitas kinerja, umumnya pelaku pasar menelaah komposisi pendapatan, margin, arus kas operasi, serta pos piutang/utang dan catatan transaksi terkait ekspansi.
Rencana rights issue hingga Rp3,2 triliun dan potensi dilusi
Rencana aksi korporasi INET yang paling menonjol adalah rights issue maksimal Rp3,2 triliun, dengan penerbitan hingga 12,8 miliar saham baru pada harga pelaksanaan Rp250 per saham. Rasio yang disebut adalah 3:4, dengan potensi dilusi hingga 57,14% bagi pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya.
Dalam ringkasan jadwal yang beredar menjelang Januari 2026, pelaksanaan disebut mencakup: cum right 2 Januari 2026, ex right 5 Januari 2026, recording date 6 Januari 2026, dan periode pelaksanaan HMETD 8–22 Januari 2026. Jadwal dapat berubah mengikuti ketentuan regulator/bursa dan dokumen final, sehingga rujukan utama tetap keterbukaan informasi resmi terbaru.
Rencana penggunaan dana: FTTH Wi‑Fi 7 dan kabel bawah laut (IRU)
Prospektus ringkas menguraikan penggunaan dana rights issue, dengan porsi terbesar diarahkan untuk ekspansi jaringan:
1) Sekitar Rp2,8 triliun untuk setoran modal ke anak usaha (GPI) guna pengembangan FTTH berkecepatan tinggi dengan teknologi Wi‑Fi 7, dengan target 2 juta pelanggan di Bali dan Lombok.
2) Sekitar Rp213,444 miliar untuk setoran modal ke anak usaha (PFI) untuk pelunasan biaya IRU kabel bawah laut.
3) Sekitar Rp135 miliar untuk setoran modal ke anak usaha lain sebagai modal kerja pembangunan FTTH (jasa roll-out, survei, implementasi, managed service).
4) Sisanya untuk modal kerja perseroan.
Pasar umumnya akan menilai seberapa cepat belanja modal tersebut berubah menjadi pendapatan dan laba, seberapa realistis target pelanggan, serta apakah ekspansi memperkuat daya saing atau justru menambah beban.
Penyesuaian harga pasca-rights issue: konsep TERP
Rights issue dapat memicu penyesuaian harga saham saat memasuki periode ex-right. Secara teori, terdapat konsep Theoretical Ex-Rights Price (TERP) yang menggambarkan harga wajar setelah hak dipisahkan. Dengan rasio 3:4 dan harga pelaksanaan Rp250, rumus sederhananya:
TERP = (3 × Harga Lama + 4 × Harga Rights) / (3 + 4)
Dalam ilustrasi yang pernah disebut di pemberitaan, jika harga sebelum ex-right Rp775, maka TERP menjadi sekitar Rp475. Dalam praktik, harga pasar bisa berbeda dari hitungan teoritis karena dipengaruhi sentimen, likuiditas, dan kondisi perdagangan.
Skenario pergerakan menuju 2026: bear, base, dan bull
Dengan banyak variabel—mulai dari dampak dilusi, eksekusi proyek FTTH, hingga dinamika perdagangan—pembacaan skenario menjadi pendekatan yang lebih masuk akal.
1) Skenario konservatif (bear case)
Risiko dominan muncul ketika ekspansi tidak berjalan sesuai rencana, dampak dilusi menekan minat pasar, atau volatilitas berlanjut tanpa dukungan kinerja yang konsisten. Dalam kondisi seperti ini, harga berpotensi bergerak naik-turun tajam namun sulit membangun tren kenaikan yang stabil.
2) Skenario moderat (base case)
Rights issue berjalan sesuai rencana dan dana digunakan untuk ekspansi yang terukur. Kinerja meningkat bertahap meski tidak setajam lonjakan 9M 2025. Jika pasar menilai model bisnis infrastruktur digital semakin terlihat dalam laporan keuangan, harga berpotensi bergerak bertahap mengikuti pembaruan proyek dan rilis kinerja.
3) Skenario agresif (bull case)
Skenario ini bertumpu pada keberhasilan katalis: pertumbuhan pelanggan, peningkatan pendapatan yang berulang, margin yang stabil, dan kejelasan monetisasi. Dalam pemberitaan, ada riset yang memberi label “speculative buy” serta target harga tertentu, namun hal tersebut merupakan opini riset dan bukan kepastian.
Risiko utama yang perlu dicermati
Setidaknya ada tiga risiko yang paling sering menjadi perhatian dalam kasus seperti INET:
1) Dilusi: prospektus menyebut potensi dilusi hingga 57,14% bagi pemegang saham yang tidak mengeksekusi HMETD.
2) Risiko eksekusi ekspansi: bisnis FTTH membutuhkan belanja modal besar, pelaksanaan roll-out, biaya akuisisi pelanggan, serta kualitas layanan agar churn terkendali.
3) Volatilitas dan suspensi: riwayat suspensi akibat kenaikan harga kumulatif signifikan menunjukkan saham dapat bergerak ekstrem, sehingga keputusan investasi yang didorong FOMO berisiko tinggi.
Hal yang bisa menjadi fokus pemantauan investor
Bagi investor yang ingin menelaah INET, fokus utama biasanya mencakup dokumen keterbukaan dan prospektus, rincian penggunaan dana rights issue, serta indikator kesehatan pertumbuhan—misalnya margin dan arus kas operasi—untuk menilai apakah pertumbuhan laba didukung kas dan berkelanjutan. Sementara bagi trader, perhatian sering diarahkan pada volume, rentang pergerakan harian, serta risiko perubahan mekanisme perdagangan.
Menjelang 2026, arah saham INET pada akhirnya akan sangat dipengaruhi oleh dua hal: bagaimana pasar menilai dampak rights issue (termasuk penyesuaian harga teoritis dan dilusi), serta seberapa efektif perusahaan mengeksekusi ekspansi jaringan menjadi kinerja yang konsisten.

