BERITA TERKINI
Memilih Model Sandbox untuk Keuangan Digital: Peluang Inovasi, Tantangan Risiko

Memilih Model Sandbox untuk Keuangan Digital: Peluang Inovasi, Tantangan Risiko

Munculnya teknologi blockchain dan aset kripto mengubah cara pasar keuangan global beroperasi. Dalam konteks pembangunan Pusat Keuangan Internasional Kota Ho Chi Minh, pemilihan model lingkungan uji coba (sandbox) dinilai akan menentukan kemampuan membentuk pasar keuangan digital yang aman sekaligus kompetitif.

Profesor Madya Ngo Minh Vu dari Universitas Ekonomi Kota Ho Chi Minh menilai sandbox untuk blockchain dan aset kripto memiliki empat tujuan utama. Pertama, mendorong inovasi dengan menyediakan ruang pengujian bagi solusi yang belum memiliki dasar hukum yang jelas. Kedua, menyempurnakan kebijakan melalui pengumpulan data praktis dari proses uji coba. Ketiga, meningkatkan daya saing dan menarik proyek fintech serta blockchain berkualitas tinggi. Keempat, mengelola risiko dan melindungi konsumen melalui batasan yang jelas dan terkontrol.

Menurut Vu, pengalaman internasional menunjukkan sandbox telah menjadi instrumen umum dalam strategi pengembangan keuangan digital. Singapura mengintegrasikan sandbox dalam strategi fintech nasionalnya, menjadikannya lahan uji coba reformasi kelembagaan, memperbarui kerangka hukum, dan menarik banyak proyek blockchain berskala besar. Inggris, kata dia, menggunakan sandbox untuk menghasilkan bukti praktis yang mendukung amandemen Undang-Undang Pasar Keuangan dan Jasa 2023.

Sementara itu, pendekatan Uni Eropa disebut tidak membebaskan proyek dari kewajiban hukum, namun berupaya mengurangi ketidakpastian bagi proyek blockchain lintas batas melalui dialog kebijakan. Merujuk praktik tersebut, Vu berpendapat model sandbox yang sesuai untuk Vietnam perlu memuat empat elemen: kerangka hukum yang fleksibel, pengawasan proaktif, jaminan keamanan sistem, serta peta jalan transisi yang jelas. Ia juga menekankan perlunya mekanisme evaluasi yang transparan setelah fase uji coba untuk menentukan apakah izin resmi dapat diberikan atau regulasi perlu disesuaikan.

Dari perspektif lebih luas, Dr. Tran Nhat Khoa, Direktur Riset On-Chain di On-Chain Economic Alliance Academy dari Global On-Chain Economic Alliance (GOE Alliance), menyampaikan bahwa sandbox umumnya didekati dari dua arah: berorientasi hukum dan berorientasi pasar. Dalam praktiknya, pusat keuangan internasional kerap mengombinasikan keduanya secara fleksibel, bergantung pada tahap perkembangan dan kondisi pasar.

Khoa menilai, di pusat keuangan yang sudah maju, prioritas utama adalah menjaga stabilitas pasar sehingga sandbox cenderung menitikberatkan manajemen risiko dan aspek hukum. Sebaliknya, di pusat keuangan yang baru terbentuk, sandbox berorientasi pasar dapat menjadi alat kompetitif untuk membangun keunggulan yang berbeda sekaligus menarik modal, bisnis, dan inovasi.

Berbicara dari sudut pandang investor internasional, Nguyen Thi Ngoc Quynh, Direktur Pasar Vietnam di Republic Financial Technology Company (Amerika Serikat), mengatakan investor dari Amerika, Eropa, dan Timur Tengah yang melirik Vietnam kerap menyoroti beberapa faktor kunci. Di antaranya adalah kerangka mekanisme dan kebijakan yang jelas serta transparan agar partisipasi pasar dapat berjalan sesuai standar internasional, selain pertimbangan potensi pertumbuhan dan profitabilitas.

Dalam kerangka itu, Kota Ho Chi Minh dipandang sebagai metropolis yang sedang berkembang. Quynh menilai, bila kota tersebut memiliki mekanisme percontohan khusus untuk produk keuangan—terutama di sektor aset digital—hal itu dapat meningkatkan daya tarik terhadap arus modal global. Ia menyebut Vietnam baru menerbitkan Resolusi 222 dan sejumlah regulasi terkait, sementara pasar masih menantikan sandbox untuk sektor aset digital. Harapan ini, menurutnya, juga datang dari komunitas bisnis, perbankan, dan startup fintech. Jika mekanisme percontohan yang tepat dibentuk, sandbox dinilai dapat membantu lembaga keuangan menjalankan proyek yang mampu menarik modal dan mendorong aliran investasi ke Vietnam, termasuk ke Kota Ho Chi Minh.

Perwakilan GOE Alliance menekankan bahwa sandbox bukan soal menyalin semua model dari berbagai negara, melainkan memilih kasus uji yang sesuai dengan kondisi pasar domestik dan kapasitas pengendalian risiko. Sejumlah ahli juga menilai kunci pengoperasian sandbox terletak pada definisi yang jelas mengenai kemampuan serta batasan, baik bagi regulator maupun entitas peserta. Regulator perlu memiliki kapasitas untuk memantau, melakukan intervensi, dan mencegah eksperimen melampaui batas yang diizinkan secara tepat waktu.

Para pihak mengingatkan, keberhasilan teknologi keuangan yang bersifat disruptif bergantung pada tersedianya ruang bagi pelaku untuk berkreasi dan menanggung risiko dalam batas yang dapat dikelola. Jika dirancang dan dioperasikan dengan tepat, sandbox tidak hanya menjadi “tempat pengujian”, tetapi juga dapat berfungsi sebagai landasan pembentukan kelembagaan untuk membantu Kota Ho Chi Minh membangun ekosistem keuangan digital yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan.