Asia berada di titik perubahan besar setelah dua dekade pergeseran kekuatan global, ketika pusat gravitasi ekonomi, politik, dan keamanan dunia kian bergerak ke Timur. Dalam lanskap baru ini, kebangkitan China kerap dipahami melalui lensa kekhawatiran, bahkan dianggap sebagai ancaman. Namun, pembacaan ulang terhadap dinamika kawasan menunjukkan gambaran yang lebih kompleks dan tidak sepenuhnya ditentukan oleh rasa cemas.
Dalam tulisannya di South China Morning Post, Veronica Lukito menilai pertanyaan tentang apakah kebangkitan China baik bagi Asia tetap relevan. Ia menegaskan upaya menghentikan kenaikan China telah gagal, dan pada titik ini satu-satunya cara untuk menghentikan kebangkitan tersebut adalah melalui perang yang berpotensi menghancurkan dunia. Karena itu, fokus yang dinilai lebih penting bukanlah bagaimana mencegah China bangkit, melainkan bagaimana Asia mengelola kebangkitan itu.
Salah satu kunci memahami geopolitik Asia adalah menerima kenyataan bahwa kawasan ini tidak seragam. Asia tidak memiliki kerangka integrasi ekonomi menyeluruh maupun institusi politik supranasional seperti Uni Eropa. Di dalamnya terdapat demokrasi terbesar di dunia, negara-negara otoritarian yang kuat, ekonomi hijau, serta negara berkembang yang masih mencari arah. Keragaman ini membuat dominasi tunggal di kawasan menjadi sulit terwujud, sekalipun China tampil sebagai raksasa ekonomi.
Pengaruh politik China, dalam pembacaan ini, tetap dibatasi setidaknya oleh dua faktor. Pertama, banyak negara Asia masih sangat bergantung pada Amerika Serikat dalam urusan keamanan. Terlepas dari penurunan relatifnya, AS tetap dipandang sebagai aktor militer paling dominan dengan jaringan aliansi yang belum tertandingi dalam waktu dekat. Kedua, negara-negara Asia—mulai dari India hingga Jepang, dari Korea Selatan hingga ASEAN—memiliki kepentingan untuk menjaga otonomi strategis dan tidak mudah membiarkan satu kekuatan mendominasi kawasan.
Bagi banyak negara di Asia, kebangkitan China menghadirkan ambivalensi. Ketergantungan ekonomi yang semakin kuat berjalan beriringan dengan kecemasan mengenai skala dan arah kekuasaan Beijing. Namun, tulisan Lukito menggarisbawahi pandangan bahwa China tidak ingin mengulang pola Amerika Serikat atau Uni Soviet sebagai hegemoni global. Disebutkan pula bahwa Beijing cenderung lebih pragmatis ketimbang ideologis, serta lebih berhitung ketimbang ekspansionis tanpa batas.
Di sisi ekonomi, China telah menjadi pendorong utama pertumbuhan Asia. Integrasi perdagangan, rantai pasok, investasi, dan pembangunan infrastruktur disebut telah meningkatkan kesejahteraan banyak negara. Meski tantangan tetap ada, kontribusi ekonomi China dinilai tidak dapat diabaikan dalam membaca perubahan kawasan.
Kehadiran China yang kuat juga berarti stabilitas kawasan tidak lagi bergantung pada satu kekuatan saja. Dalam situasi persaingan dua kekuatan besar, peluang muncul jika kompetisi tersebut dikelola dengan baik: negara-negara Asia dapat memperkuat kemandirian, mengatur jarak, memilih kepentingan, dan memanfaatkan dinamika baru. Dengan demikian, Asia tidak semata menjadi penonton dalam kompetisi China-AS.
Di tengah ketidakpastian geopolitik, banyak negara Asia memilih strategi hedging, yaitu tidak memihak secara ekstrem sambil menjaga hubungan baik dengan kedua pihak. Strategi ini kerap dikritik sebagai sikap tidak tegas, tetapi dalam konteks kawasan yang beragam dan penuh risiko, pendekatan tersebut dipandang sebagai bentuk rasionalitas.
Indonesia, misalnya, disebut tidak berkepentingan menjadi bagian dari blok mana pun. Kepentingan nasional justru diletakkan pada kawasan yang stabil, terbuka, dan tidak terpolarisasi secara kaku. Karena itu, menjaga hubungan konstruktif dengan China sekaligus mempertahankan kerja sama strategis dengan Amerika Serikat dipandang sebagai langkah realistis. Pendekatan serupa juga terlihat pada banyak negara Asia Tenggara, India, hingga negara-negara Asia Timur Laut yang memiliki relasi lebih problematik dengan China.
Pada akhirnya, kebangkitan China memang mengubah Asia, tetapi tidak serta-merta menghilangkan ruang kawasan untuk menentukan arah sendiri. Narasi bahwa China akan menguasai Asia secara total dinilai sebagai penyederhanaan yang tidak sejalan dengan realitas, mengingat Asia terlalu besar, beragam, dan dinamis untuk didominasi satu aktor. Tantangan tetap nyata, namun peluang juga terbuka lebar—bergantung pada kemampuan negara-negara Asia membaca konteks, merumuskan kepentingan nasional, dan menavigasi kompetisi kekuatan besar dengan kecerdasan strategis.

