BERITA TERKINI
Manajemen Arus Kas dan Transformasi Digital Jadi Sorotan dalam Bincang-bincang Tata Kelola Perusahaan

Manajemen Arus Kas dan Transformasi Digital Jadi Sorotan dalam Bincang-bincang Tata Kelola Perusahaan

Dalam sebuah acara bincang-bincang khusus mengenai tata kelola perusahaan, perwakilan VPBank bersama para ahli ekonomi membahas praktik manajemen keuangan, operasional bisnis, serta cara beradaptasi di era digital. Diskusi menekankan bahwa kemakmuran tidak semata ditentukan oleh besarnya modal, melainkan oleh kemampuan memahami, mengelola, dan mengambil keputusan berdasarkan arus kas.

Salah satu bahasan utama adalah pendekatan VPBank dalam digitalisasi. Alih-alih menjadikan teknologi sebagai pelengkap, bank tersebut menempatkannya di inti proses bisnis, mulai dari penerapan eKYC hingga persetujuan otomatis berbasis AI serta penyediaan produk yang lebih kompleks melalui platform digital. Dampaknya, proses yang sebelumnya memerlukan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu dapat dipangkas menjadi hitungan menit. Namun, diskusi menyoroti bahwa tujuan utamanya bukan sekadar percepatan layanan, melainkan mengurangi hambatan yang dialami pelanggan dalam mengakses layanan keuangan.

Bagi pelaku usaha, terutama usaha kecil dan menengah (UKM), tantangan yang paling menonjol dinilai berada pada arus kas dan kemampuan beradaptasi secara cepat. Dalam forum tersebut, VPBank memaparkan arah pengembangan pinjaman tanpa jaminan berbasis data. Perwakilan VPBank, Dao Gia Hung, menyatakan bahwa penilaian lebih difokuskan pada kesehatan arus kas bisnis, bukan pada jaminan. Skema ini disebut membuka peluang bagi bisnis yang bertumpu pada tenaga kerja, termasuk perusahaan rintisan teknologi atau bisnis jasa, untuk memperoleh akses modal.

Menurut pemaparan dalam acara itu, persetujuan pinjaman dapat dilakukan dalam satu hari dengan mempertimbangkan riwayat transaksi dan pemanfaatan big data. Pendekatan ini digambarkan sebagai perubahan bertahap dalam cara bank menilai risiko, seiring meningkatnya peran data dalam proses pengambilan keputusan.

Meski demikian, diskusi juga menekankan pentingnya disiplin keuangan. Ekonom Lam Minh Chanh mengingatkan agar pelaku usaha tidak meminjam hanya karena memiliki kemampuan untuk meminjam. Ia menekankan perlunya memastikan bahwa modal yang diperoleh dapat segera menghasilkan arus kas, agar pinjaman tidak menjadi beban yang justru menggerus kinerja bisnis.

Acara tersebut turut mengulas masa depan industri perbankan, dengan pandangan bahwa teknologi kini menjadi prasyarat untuk bertahan. Lam Minh Chanh menyebut perubahan sebagai kebutuhan mendesak, bukan lagi sekadar tren, dan bank yang tidak bertransformasi berisiko tersingkir. Dalam konteks ini, konsep seperti Embedded Banking, Open Banking, dan AI dinilai semakin hadir dalam transaksi sehari-hari, mulai dari pembayaran dan belanja hingga pengelolaan bisnis.

Di tengah perkembangan itu, data menjadi faktor kunci. Diskusi menegaskan bahwa bank dengan data yang bersih serta kemampuan analisis yang kuat berpeluang memimpin pasar. Fondasi tersebut juga dipandang penting untuk mendukung model pinjaman tanpa jaminan, manajemen risiko yang lebih cerdas, serta pengalaman pelanggan yang lebih personal tanpa menimbulkan risiko sistemik.