Seorang mahasiswi asal Wombo, Kabupaten Donggala, menyampaikan pandangannya mengenai perbincangan seputar kapal PELNI dan arah pembangunan daerah. Ia menekankan pentingnya memastikan setiap kebijakan yang diambil benar-benar selaras dengan kebutuhan masyarakat, bukan semata berorientasi pada pembangunan fisik.
Menurutnya, kemajuan daerah seharusnya diukur dari sejauh mana warga merasakan manfaat secara langsung. Ia menilai, di sejumlah wilayah Donggala, terutama pesisir barat, masih terdapat keterbatasan akses dan infrastruktur. Wombo yang berada di bagian atas dan terdiri dari tiga desa, disebut masih bergantung pada akses dari Pantoloan.
Dalam konteks itu, Pelabuhan Pantoloan dinilai memiliki peran penting sebagai pintu masuk utama untuk aktivitas ekonomi maupun mobilitas warga. Ia menyebut pelabuhan tersebut selama ini dirasakan paling mudah diakses oleh banyak masyarakat, tidak hanya dari Pantoloan, tetapi juga dari berbagai wilayah lain di Sulawesi Tengah.
Ia juga menyoroti dampak ekonomi dari operasional kapal PELNI di Pantoloan. Menurutnya, banyak keluarga menggantungkan penghasilan dari aktivitas di sekitar pelabuhan, terutama ketika kapal PELNI beroperasi, dan kondisi itu telah berlangsung cukup lama serta menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Terkait adanya Surat Keputusan dari kementerian, ia menyatakan memahami bahwa dokumen tersebut merupakan bagian dari proses administrasi pemerintahan. Namun, berdasarkan diskusinya dengan Ketua PMP, ia menyebut hingga kini belum ada kajian yang terbuka dan komprehensif yang menjelaskan urgensi pemindahan kapal PELNI. Ia juga menambahkan bahwa SK tersebut diajukan pada masa pemerintahan sebelumnya, sehingga perlu ditinjau kembali kesesuaiannya dengan kondisi masyarakat saat ini.
Ia menilai sikap Gubernur Sulawesi Tengah yang mempertimbangkan aspirasi masyarakat patut dihargai. Baginya, pernyataan gubernur bahwa persoalan ini menyangkut rakyat menunjukkan upaya menempatkan kepentingan warga sebagai pertimbangan utama dalam pengambilan kebijakan.
Dalam pandangannya sebagai mahasiswa, ia menekankan peran anak muda tidak hanya menyuarakan kritik, tetapi juga mengajak berpikir jernih dan berimbang. Ia menyebut kritik yang membangun semestinya diarahkan pada perbaikan kualitas pembangunan, pemerataan akses, serta pemanfaatan potensi daerah.
Ia juga mengutip pemikiran Amartya Sen bahwa pembangunan sejati adalah pembangunan yang memperluas akses dan kesempatan masyarakat. Karena itu, kebijakan transportasi dan pembangunan daerah dinilainya perlu memudahkan kehidupan sehari-hari, terutama bagi warga di wilayah yang aksesnya masih terbatas.
Di akhir pernyataannya, mahasiswi tersebut berharap kebijakan pembangunan di Sulawesi Tengah ke depan semakin mempertimbangkan kebutuhan masyarakat secara luas dan merata, serta diambil dengan kehati-hatian, keterbukaan, dan keberpihakan kepada kepentingan warga.

