Fenomena gaji yang hanya “numpang lewat” masih kerap dikeluhkan pekerja muda, terutama pada awal bulan. Tanpa strategi keuangan yang matang, pendapatan dari kerja sebulan penuh dapat habis hanya dalam hitungan hari.
Pegawai swasta di Tanjungpinang, Erni, menilai kondisi ini tidak selalu disebabkan oleh nominal gaji yang kecil. Menurutnya, faktor utama justru terletak pada rendahnya literasi finansial dalam menentukan prioritas antara kebutuhan dan keinginan, sehingga pengelolaan keuangan menjadi tidak optimal.
“Banyak orang merasa gajinya kurang, padahal masalahnya sering ada di cara mengatur pengeluaran. Antara kebutuhan mendesak dan keinginan sesaat sering tercampur,” ujar Erni, Jumat, 30 Januari 2026.
Erni menyarankan pekerja muda menerapkan metode pengelolaan keuangan 50-30-20 sebagai panduan dasar. Dalam metode tersebut, 50 persen gaji dialokasikan untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk keinginan atau hiburan, sementara 20 persen sisanya disisihkan untuk tabungan, investasi, atau kegiatan sosial.
Selain disiplin menerapkan pembagian anggaran, ia juga menekankan pentingnya mencatat pengeluaran secara rutin. Menurutnya, berbagai aplikasi manajemen keuangan gratis yang tersedia di ponsel pintar dapat membantu memantau arus pemasukan dan pengeluaran.
“Dengan melihat data pengeluaran, tentunya kita bisa mengevaluasi biaya yang sebenarnya tidak perlu. Contohnya itu, kebiasaan jajan yang berlebihan atau langganan aplikasi yang jarang kita gunakan,” katanya.
Lebih lanjut, Erni mengingatkan pentingnya membangun mentalitas investasi sejak dini, tidak hanya menabung secara pasif. Ia menilai mempelajari instrumen investasi berisiko rendah namun stabil dapat membantu menjaga nilai uang dari tekanan inflasi.

