BERITA TERKINI
Literasi Keuangan 2026: Akses Digital Meluas, Pemahaman Risiko Masih Tertinggal

Literasi Keuangan 2026: Akses Digital Meluas, Pemahaman Risiko Masih Tertinggal

Memasuki 2026, Indonesia menghadapi paradoks yang kian nyata: tingkat pendidikan disebut telah melampaui 96% dan akses informasi lewat perangkat elektronik semakin mudah, tetapi kasus masyarakat terjebak investasi palsu dan utang digital tetap berulang. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar tentang mengapa kemampuan mengakses informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan memahami risiko finansial.

Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat dinilai semakin mahir mengikuti arus informasi digital, namun kerap kesulitan ketika harus membaca dan menilai dokumen terkait manajemen risiko maupun perhitungan bunga. Situasi tersebut menegaskan bahwa kemampuan “membaca” tidak otomatis berarti memahami konsekuensi finansial dari sebuah keputusan.

Periode 2021 hingga 2026 memperlihatkan perubahan perilaku yang signifikan di tengah laju ekonomi digital yang cepat. Perkembangan teknologi disebut bergerak lebih cepat dibanding kemajuan pendidikan dalam membekali masyarakat dengan pemahaman keuangan yang memadai.

Pada awal 2021, fenomena FOMO (fear of missing out) mewarnai perilaku banyak orang. Tingginya literasi umum membuat masyarakat cepat mengikuti tren yang ramai di media sosial, termasuk antusiasme terhadap crypto. Namun, rendahnya literasi keuangan membuat sebagian orang kesulitan memilah informasi dan mengenali risiko yang menyertai keputusan investasi.

Dampaknya kian terlihat pada 2023 hingga 2024, yang digambarkan sebagai periode cukup sulit. Dalam rentang itu, kasus pelanggaran pembayaran pinjaman online serta penipuan yang mengatasnamakan robot trading disebut meningkat tajam, memperlihatkan kerentanan masyarakat ketika berhadapan dengan produk dan tawaran keuangan digital.

Gambaran yang muncul adalah masyarakat telah memegang “kunci” berupa akses digital, tetapi belum memiliki “peta” untuk menavigasi ekosistem keuangan yang semakin rumit dan penuh tekanan. Ketika akses dan pilihan produk bertambah, kemampuan memahami cara kerja, biaya, dan risiko tidak selalu ikut meningkat.

Masalah utama yang disorot dari statistik lima tahun terakhir adalah ketidakseimbangan antara inklusi dan literasi. Pada 2026, akses terhadap berbagai produk keuangan dinilai semakin mudah, tetapi pemahaman masyarakat terhadap produk tersebut masih kurang mendalam dan perlu ditingkatkan.

Ketimpangan ini dianalogikan seperti memberikan mobil balap kepada seseorang yang baru belajar bersepeda: aksesnya tersedia, tetapi kemampuan untuk mengendalikan dan memahami risikonya belum cukup. Dalam konteks ekonomi digital yang terus berkembang, celah antara literasi umum dan literasi keuangan menjadi titik rawan yang dapat memengaruhi ketahanan finansial banyak orang.