Prospek kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO) pada 2026 dinilai masih menghadapi tantangan, terutama terkait keterbatasan kuota produksi nikel yang diperoleh perseroan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memangkas target produksi nikel nasional menjadi 250–260 juta ton pada 2026, turun dari target produksi dalam RKAB 2025 yang sebesar 379 juta ton.
INCO menyatakan hanya memperoleh sekitar 30% dari kuota produksi nikel yang diajukan dalam RKAB 2026. Persetujuan RKAB tersebut baru diterima dari Kementerian ESDM, namun perseroan belum merinci besaran kuota yang diajukan maupun jumlah kuota yang disetujui.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai, kondisi ini berpotensi berdampak negatif bila berlangsung dalam jangka panjang. Pembatasan kuota dinilai dapat menghambat pasokan bijih nikel ke tiga proyek hilirisasi strategis INCO, yakni Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa di Sulawesi Tenggara, IGP Sorowako di Sulawesi Selatan, serta IGP Morowali di Sulawesi Tengah.
“Pembatasan kuota bisa menghambat pasokan bijih ke proyek strategis dan menekan margin laba karena INCO terpaksa membeli bijih dari pihak ketiga dengan harga lebih mahal untuk menjaga operasional,” ujar Wafi, Kamis (22/1/2026).
Meski begitu, Wafi menilai masih ada katalis yang dapat menopang kinerja INCO sepanjang 2026. Salah satunya adalah status premium dari produk “green nickel” yang dimiliki perseroan. Selain itu, rampungnya proses divestasi ke MIND ID diharapkan dapat membantu kelancaran komunikasi dan koordinasi dengan regulator.
Di sisi lain, sentimen negatif tetap perlu dicermati, seperti risiko oversupply nikel global serta fluktuasi harga energi yang berpotensi meningkatkan biaya produksi.
Dari sisi kinerja keuangan, INCO membukukan pendapatan sebesar US$ 902 juta atau setara Rp 15,03 triliun hingga November 2025. Pencapaian ini ditopang oleh peningkatan volume produksi dan penjualan nikel matte serta bijih nikel saprolit berkadar tinggi.
Produksi nikel matte sepanjang 2025 tercatat melampaui target, dengan realisasi 66.848 ton atau naik 3% secara tahunan (YoY). Sementara penjualan nikel matte mencapai 67.351 ton, meningkat 2% YoY.
Menurut Wafi, kinerja INCO pada 2026 cenderung menantang dengan potensi stagnasi. Pendapatan berpeluang tertahan akibat kendala volume produksi, namun laba bersih masih berpotensi tetap positif berkat efisiensi biaya yang dinilai kuat.
Atas pertimbangan tersebut, Wafi merekomendasikan investor untuk menahan (hold) saham INCO dengan target harga Rp 6.150 per saham.

