Penyaluran kredit investasi perbankan menunjukkan pemulihan pada akhir 2025, seiring meningkatnya permintaan pembiayaan dari pelaku usaha. Bank Indonesia (BI) mencatat, per Desember 2025 kredit investasi tumbuh 20,5% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 2.506,8 triliun, meningkat dibanding November 2025 yang tumbuh 17,8% yoy dengan nilai Rp 2.406,0 triliun.
Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai, menguatnya kredit investasi pada penghujung 2025 didorong kombinasi kebijakan pemerintah dan kesiapan dunia usaha menyambut tahun berikutnya. “Pada Desember 2025 terlihat ada peningkatan permintaan kredit investasi yang cukup signifikan, salah satunya terkait dengan program pemerintah,” ujarnya, Jumat (23/1/2026).
Huda mencontohkan, perluasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendorong kebutuhan pembiayaan investasi, terutama untuk pembangunan dapur produksi, logistik, serta sarana pendukung. Kenaikan cakupan program tersebut dinilai ikut meningkatkan kebutuhan modal jangka panjang dari pelaku usaha.
Selain faktor kebijakan, permintaan kredit investasi juga ditopang meningkatnya optimisme dunia usaha. Huda menyebut hal itu tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang berada di zona ekspansif pada akhir 2025. “Pelaku usaha mulai bersiap untuk ekspansi tahun depan. Ini tercermin dari permintaan kredit investasi dan juga dari indikator PMI manufaktur yang sudah kembali ekspansif,” kata dia.
Dari sisi sektoral, Huda menilai sektor yang berkaitan langsung dengan Program MBG menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit investasi. Sektor penyediaan makanan dan minuman, logistik pendukung, hingga industri turunannya diperkirakan mencatat pertumbuhan tertinggi.
Meski demikian, Huda mengingatkan pemulihan kredit investasi belum sepenuhnya berkelanjutan karena masih bergantung pada belanja dan program pemerintah. “Selama MBG masih berjalan dan anggarannya besar, ekspansi usaha masih akan terjadi. Tapi pertumbuhan ini belum tentu sustain. Jika program pemerintah berakhir, maka dorongan ekspansi dari sektor tersebut juga akan berhenti,” tegasnya.
Terkait kualitas kredit, Huda menilai risiko kredit investasi relatif terjaga karena sebagian pembiayaan didukung proyek dan kontrak yang jelas. Namun, ia menekankan perbankan tetap perlu mencermati ketergantungan yang terlalu besar pada proyek pemerintah.
Untuk tahun ini, ia memperkirakan tren kredit investasi masih dipengaruhi keberlanjutan program fiskal, kondisi PMI manufaktur, dan stabilitas suku bunga. Kepercayaan dunia usaha serta arah kebijakan ekonomi global juga disebut menjadi katalis penting. Ke depan, Huda menyarankan perbankan memperluas pembiayaan ke sektor produktif lain agar pertumbuhan lebih sehat dan tidak bertumpu pada satu sumber. Ia menyebut sektor manufaktur bernilai tambah, energi terbarukan, serta industri berdaya saing jangka panjang sebagai contoh sasaran diversifikasi.
Sejumlah bank melaporkan pertumbuhan penyaluran kredit investasi sepanjang 2025. PT Bank Mandiri Tbk mencatat kredit investasi tumbuh 26,3% secara tahunan hingga November 2025. Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, mengatakan pertumbuhan tersebut sejalan dengan penyaluran kredit yang disesuaikan kebutuhan nasabah dan penyediaan solusi pembiayaan yang tepat sasaran. “Pertumbuhan kredit investasi ini ditopang oleh sektor-sektor yang memiliki multiplier effect tinggi terhadap perekonomian,” ujarnya.
Adapun sektor penopang pertumbuhan kredit investasi Bank Mandiri antara lain industri pengolahan, pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin, pengangkutan dan pergudangan, serta sektor produktif lainnya. Dari sisi kualitas aset, Bank Mandiri menyatakan menerapkan prinsip kehati-hatian dengan mempertimbangkan profil risiko masing-masing sektor. Adhika juga menyebut perseroan memperhatikan penguatan sektor hilirisasi serta pembiayaan proyek strategis nasional, dengan manajemen risiko sebagai landasan agar pertumbuhan kredit berkelanjutan.
PT Bank Danamon Indonesia Tbk juga mencatat pertumbuhan kredit investasi. Hingga September 2025, Danamon menyalurkan kredit investasi sekitar Rp 33,5 triliun, tumbuh hampir 30% yoy. Direktur Enterprise Banking & Financial Institution Bank Danamon, Thomas Sudarma, menyampaikan pendorong utama pertumbuhan berasal dari sektor industri pengolahan. Selain manufaktur, kredit investasi Danamon juga mengalir ke sektor perdagangan dan real estate, seiring kebutuhan pembiayaan jangka panjang untuk ekspansi usaha.
“Peningkatan kredit investasi ini didorong oleh optimisme dunia usaha terhadap stabilitas ekonomi, yang didukung oleh kebijakan pemerintah, serta kebutuhan nasabah untuk memperluas kapasitas produksi dan aktivitas bisnis,” ujar Thomas. Danamon menilai peluang pertumbuhan kredit investasi masih terbuka pada 2026, namun laju pertumbuhan akan disesuaikan dengan strategi perseroan dan dinamika ekonomi domestik maupun global. “Untuk 2026, Danamon mengharapkan pertumbuhan kredit sejalan dengan target pertumbuhan kredit industri perbankan secara umum, dengan tetap mencermati berbagai faktor internal dan eksternal,” tutupnya.
Sementara itu, PT Bank Central Asia (BCA) menyebut penyaluran kredit investasi masih terjaga. Per September 2025, kredit investasi BCA tumbuh 24% yoy menjadi Rp 305 triliun. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, mengatakan penyaluran kredit dilakukan pada sektor potensial dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian domestik dan global serta potensi bisnis calon debitur. “Hal itu sejalan dengan komitmen bank untuk menyalurkan kredit secara prudent, sekaligus mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dengan penerapan manajemen risiko yang disiplin,” kata Hera.

