Koperasi Peternakan Bersih Nam Hong Quang di Komune Trung Thuan, yang berdiri sejak 2016, melakukan restrukturisasi model produksi setelah beberapa tahun beroperasi dengan efisiensi terbatas. Koperasi yang semula berfokus pada peternakan terintegrasi skala kecil serta pengolahan ayam asap dan kaki babi, kini berinvestasi pada mesin dan teknologi untuk membangun model peternakan bersih dengan sistem siklus tertutup.
Direktur Koperasi Peternakan Terpadu Bersih Nam Hong Quang, Nguyen Thi Hong, mengatakan koperasi sebelumnya memelihara ayam untuk diolah menjadi ayam asap. Namun, metode peternakan tradisional dinilai belum menghasilkan produktivitas dan efisiensi yang tinggi.
Atas dasar itu, koperasi beralih ke model pemeliharaan ayam di fasilitas penyimpanan dingin tertutup. Dalam model ini, seluruh proses pemeliharaan dikontrol lebih ketat, mulai dari indukan hingga pakan dan air, dengan tujuan mengurangi risiko penyakit serta pencemaran lingkungan. Saat ini, koperasi memelihara sekitar 3.500 ekor ayam untuk menjaga pasokan telur dan daging yang akan diolah menjadi produk ayam asap.
Seiring meningkatnya permintaan pasar dan volume pesanan, koperasi tidak hanya menambah jumlah ternak, tetapi juga menyiapkan perluasan fasilitas pengolahan. Pada akhir 2025, koperasi berencana menginvestasikan 2 miliar VND untuk mengimpor mesin pengolahan produk ayam asap, bebek, dan angsa, serta mesin pembuatan sosis dan bakso. Setelah produk baru diluncurkan, koperasi menargetkan penguatan infrastruktur agar produk memenuhi standar OCOP (Satu Komune Satu Produk).
Perubahan yang dilakukan Nam Hong Quang disebut selaras dengan tren lebih luas di kalangan koperasi, yang mulai beralih dari penyedia layanan skala kecil menuju model terintegrasi dalam rantai nilai. Sejumlah koperasi juga mempercepat adopsi mesin dan teknologi modern, menerapkan metode pertanian bersih, tertutup, organik, dan ramah lingkungan, serta mengadopsi standar VietGAP dan GlobalGAP. Partisipasi dalam program OCOP turut didorong untuk memenuhi persyaratan ketertelusuran.
Di tingkat provinsi, tercatat terdapat 700 koperasi pertanian dengan lebih dari 114.000 anggota. Dari jumlah tersebut, 100 koperasi menerapkan teknologi tinggi atau sekitar 14,2%. Sebanyak 195 koperasi terlibat dalam keterkaitan produksi dan konsumsi produk (27,9%), sementara 162 produk dari 96 koperasi telah meraih peringkat OCOP bintang 3 atau lebih tinggi. Rata-rata pendapatan koperasi dilaporkan lebih dari 1.400 juta VND per koperasi, dengan keuntungan rata-rata sekitar 150 juta VND per koperasi.
Ketua Serikat Koperasi Provinsi, Dinh Thi Quynh Hoa, menilai model koperasi di tingkat lokal sebelumnya menghadapi keterbatasan seperti operasi yang terfragmentasi, tersebar, dan berskala kecil. Namun, menurutnya, koperasi kini lebih lincah membaca tren pasar, berani berinovasi, memperluas skala, serta menerapkan teknologi dalam produksi pertanian. Ia menekankan bahwa memperluas skala koperasi tidak sekadar menambah anggota, melainkan juga transformasi dari manajemen tradisional menuju model modern yang memperkuat peran koperasi dalam pengembangan pertanian dan ekonomi lokal.
Ke depan, Persatuan Koperasi Provinsi berencana mendorong koperasi secara bertahap melakukan transformasi digital, mengadopsi ilmu pengetahuan dan teknologi, membangun merek, serta memperkuat koneksi dengan pasar konsumen. Langkah tersebut ditujukan untuk membentuk model koperasi baru yang berkelanjutan dan kompetitif.

