BERITA TERKINI
Kolaborasi sekolah dan dunia usaha dinilai kunci peningkatan standar pendidikan vokasi

Kolaborasi sekolah dan dunia usaha dinilai kunci peningkatan standar pendidikan vokasi

Peran dunia usaha dalam pendidikan vokasi kini mendapat penegasan lebih kuat. Dalam Undang-Undang Pendidikan Vokasi yang telah diamandemen, untuk pertama kalinya peran perusahaan didefinisikan secara khusus sebagai entitas sentral dalam ekosistem pendidikan vokasi.

Kerangka ini mendorong perusahaan untuk berpartisipasi dalam pelatihan, menyediakan pelatihan praktik dan kesempatan magang, serta berkolaborasi dengan sekolah dalam pembaruan teknologi, proses produksi, dan keterampilan kejuruan. Skema tersebut dinilai membantu lembaga pendidikan menyiapkan sumber daya manusia terampil sesuai kebutuhan pasar kerja, sekaligus membuka peluang bagi perusahaan untuk merekrut tenaga kerja yang dibutuhkan secara lebih proaktif.

Kepala Sekolah Central College of Transport and Communications I, Duong The Anh, mengatakan kemitraan antara dunia usaha dan sekolah berperan penting untuk membantu lembaga pelatihan mencapai standar hasil, serta memastikan kurikulum selaras dengan kebutuhan praktis pasar tenaga kerja.

Menurut The Anh, salah satu manfaat utama pelatihan kolaboratif adalah keterlibatan dunia usaha bersama staf dan dosen sekolah dalam mengembangkan, memperbarui, dan melengkapi program pelatihan. Dengan cara itu, pengetahuan dan teknologi baru yang digunakan perusahaan dalam produksi dapat diintegrasikan ke dalam materi pengajaran dan praktik di sekolah.

Ia juga menyoroti kendala anggaran yang dihadapi banyak sekolah dalam pengadaan peralatan dan teknologi modern. Kolaborasi dengan perusahaan, kata dia, memberi siswa akses pada teknologi baru dan membantu memastikan pelatihan sesuai persyaratan pekerjaan. Siswa dapat menggunakan mesin dan peralatan modern milik perusahaan saat praktik, sekaligus memahami cara bisnis beroperasi dalam situasi nyata sehingga tidak merasa kewalahan ketika mulai bekerja.

Selain itu, The Anh menyebut sejumlah universitas menerapkan model pelatihan 1 + 1 + 1, yakni tahun pertama mahasiswa mempelajari pengetahuan dasar di kampus, tahun kedua mendapat pelatihan keterampilan praktis di perusahaan, dan tahun ketiga menjalani magang di perusahaan. Menurutnya, dosen juga diuntungkan karena memperoleh pelatihan untuk meningkatkan keahlian, serta akses pada fasilitas dan peralatan tambahan untuk riset dan pengembangan materi ajar.

Manfaat kolaborasi tidak hanya dirasakan sekolah dan mahasiswa. The Anh menilai dunia usaha dapat memenuhi kebutuhan sumber daya manusia dan meminimalkan kebutuhan pelatihan ulang. Sementara itu, negara diuntungkan melalui tersedianya tenaga kerja berkualitas yang melayani kebutuhan sektor-sektor ekonomi utama.

Pandangan serupa disampaikan Kepala Sekolah Tinggi Pelatihan Vokasi Teknik dan Teknologi, Dang An Binh. Ia menilai kebutuhan pengembangan dan penerapan teknologi dalam produksi membuat banyak lembaga pelatihan tidak dapat langsung berinvestasi pada peralatan baru untuk pengajaran. Karena itu, kombinasi pelatihan antara bisnis dan sekolah membantu siswa dan dosen mengakses serta menerapkan teknologi terkini saat masih menempuh pendidikan.

Binh menambahkan, pelatihan kolaboratif memberi kesempatan “belajar sambil praktik”, mengurangi kebutuhan pelatihan ulang setelah lulus, dan memungkinkan mahasiswa mengenal proses produksi secara lebih langsung.

Kolaborasi dengan perusahaan juga dinilai membantu sekolah mengatasi tantangan penempatan kerja lulusan. The Anh menyebut institusinya bekerja sama dengan sejumlah perusahaan, seperti Deo Ca Group dan Truong Son Construction Corporation. Melalui kerja sama tersebut, perusahaan mitra setiap tahun melakukan wawancara dan merekrut siswa secara langsung, serta mengirim personel ke sekolah untuk mengikuti pelatihan lanjutan guna meningkatkan keterampilan.

Rektor Sekolah Tinggi Pelatihan Vokasi Teknik dan Teknologi menyatakan bahwa sebelumnya mahasiswa memiliki peluang terbatas untuk memperoleh pengalaman praktik setelah lulus dan membutuhkan waktu sekitar 3 hingga 6 bulan untuk mengenal lapangan dan lingkungan kerja. Menurutnya, pelatihan terkoordinasi membantu mahasiswa meningkatkan keterampilan, memenuhi standar hasil kerja, dan memperbesar peluang kerja.

Dari sisi perusahaan, akses terhadap tenaga kerja berkualitas menjadi nilai tambah. Jika selama proses pelatihan teridentifikasi siswa berbakat, mekanisme dapat diterapkan untuk mengundang mereka bekerja di perusahaan atau memberikan beasiswa, sehingga lulusan dapat kembali berkontribusi melalui jalur rekrutmen talenta.

Direktur Chung Group Joint Stock Company, Le Dang Cong, mengatakan kolaborasi pelatihan antara sekolah dan dunia usaha dapat menciptakan keuntungan bagi tiga pihak: bisnis, sekolah, dan siswa. Dengan terlibat dalam pelatihan, perusahaan dapat memahami kemampuan siswa, mengetahui kekuatan dan kelemahan mereka, lalu memberikan umpan balik kepada sekolah.

Cong menekankan perusahaannya membutuhkan tenaga teknis terampil yang memiliki etika kerja profesional agar kebutuhan pelatihan ulang dapat diminimalkan. Saat ini, Chung Group bekerja sama dengan Ho Chi Minh International College dalam program pelatihan, termasuk magang dan pelatihan praktik di perusahaan.

Ia menilai mahasiswa dari Ho Chi Minh International College memiliki dasar pengetahuan yang kuat, terutama di bidang teknik elektro dan elektronika otomotif, cepat belajar, serta mudah beradaptasi dengan lingkungan layanan dan pekerjaan praktik. Menurutnya, kelompok ini merupakan sumber daya manusia teknis muda yang menjanjikan dan sejalan dengan tren perkembangan industri layanan otomotif.

Cong juga menilai kerja sama memungkinkan perusahaan berbagi pengalaman kerja dan mengintegrasikannya ke dalam program pelatihan sekolah, sehingga pelatihan yang diberikan lebih sesuai kebutuhan praktis perusahaan.

Kepala Sekolah Ho Chi Minh International College, Nguyen Dang Ly, mengatakan di banyak negara perusahaan secara proaktif mencari dan bersedia berinvestasi dalam peralatan serta mesin untuk sekolah guna melatih personel sesuai kebutuhan rekrutmen. Dalam model tersebut, peserta didik juga mendapat pembaruan teknologi dan pengetahuan yang diterapkan perusahaan dalam proses produksi.