Sosok Do Anh Van kerap terlihat di pinggir lapangan saat tim nasional Vietnam bertanding. Ia berdiri dekat garis tepi, menyimak instruksi Pelatih Kim Sang-sik, lalu segera meneruskannya kepada para pemain dengan suara keras, jelas, dan penuh semangat. Meski kini dikenal luas sebagai asisten bahasa pelatih asal Korea Selatan itu, perjalanan dan latar belakangnya tidak banyak diketahui publik.
Di mata orang-orang yang pernah bekerja dengannya, Do Anh Van dinilai memiliki gaya komunikasi yang tegas namun terkendali. Ia disebut mampu menjaga ketenangan, fleksibel dalam situasi pertandingan, dan tetap berenergi ketika dibutuhkan. Cara bicaranya juga dianggap cerdas dan humoris, yang dinilai selaras dengan karakter Kim Sang-sik sehingga keduanya terlihat cocok dalam pekerjaan sehari-hari.
Peran Do Anh Van tidak berhenti pada penerjemahan bahasa. Ia juga dipandang sebagai jembatan budaya yang membantu pemain Vietnam memahami nuansa, semangat, dan maksud taktis yang disampaikan pelatih. Dengan kata lain, ia turut memastikan pesan pelatih tidak hanya tersampaikan secara harfiah, tetapi juga dipahami sebagaimana dimaksud.
Mantan Sekretaris Jenderal VFF, Duong Nghiep Khoi, mengungkapkan bahwa Do Anh Van berasal dari Hai Duong (kini Hai Phong) dan memiliki latar sepak bola sejak kecil. Ia sempat belajar sepak bola di sekolah bakat dan berlatih bersama Van Toan ketika masih di tim U-9 Hai Duong. Setelah menilai peluangnya untuk menjadi pemain profesional tidak cukup kuat, Do Anh Van mengubah arah dengan pergi ke Korea Selatan untuk mempelajari bidang terkait sepak bola. Langkah itu kemudian membawanya pada kesempatan bekerja di lingkungan kepelatihan profesional.
Duong Nghiep Khoi juga menyebut bahwa ketika Do Anh Van pertama kali diperkenalkan sebagai penerjemah Kim Sang-sik, sempat muncul keraguan karena ia berbicara dengan aksen pedesaan. Kekhawatiran saat itu adalah apakah ia akan kesulitan menyampaikan instruksi taktis. Namun, setelah melalui masa percobaan singkat, penilaiannya berubah. Menurutnya, Do Anh Van memahami jargon teknis karena sudah bermain sepak bola sejak kecil dan memiliki latar pengalaman di sepak bola Korea. Kecocokan dengan pelatih dan para pemain membuat VFF memutuskan menjalin kerja sama jangka panjang.
Meski akhirnya menempati peran penting, jalan Do Anh Van menuju tim nasional Vietnam disebut tidak sepenuhnya mulus. Wakil Presiden VFF, Tran Anh Tu, menyampaikan bahwa saat Kim Sang-sik pertama kali datang ke Vietnam, Do Anh Van sempat diperkenalkan untuk pekerjaan tersebut, tetapi awalnya menolak karena takut. Pada saat itu, VFF disebut tidak memiliki pilihan yang lebih baik sehingga berupaya membujuknya.
Tekanan pekerjaan juga sempat membuat Do Anh Van meminta cuti. Tran Anh Tu menjelaskan, beban kerja yang besar menjadi salah satu penyebabnya. Dalam situasi tersebut, Kepala Departemen Tim Nasional VFF, Doan Anh Tuan, disebut mendorong dan membujuk Do Anh Van agar tetap bertahan.
Tran Anh Tu menilai Do Anh Van sebagai pribadi yang serius dan bertanggung jawab, memahami pentingnya peran yang dijalankan, namun tetap menjaga kerendahan hati. Keunggulannya, menurut penilaian VFF, bukan hanya kemampuan berbahasa Korea, melainkan juga pemahaman sepak bola yang diperoleh dari latihan formal dan pengalaman bermain. Dengan bekal itu, ia dinilai mampu menyampaikan instruksi Kim Sang-sik dengan cara yang mudah dipahami pemain Vietnam, bukan sekadar menerjemahkan kata demi kata.
Di lapangan, Do Anh Van disebut memiliki energi yang mirip dengan Kim Sang-sik—bersemangat dan siap menyuarakan instruksi agar terdengar jelas oleh para pemain. Namun di luar lapangan, ia digambarkan lebih pemalu dan pendiam. Dalam berbagai interaksi, ia dinilai berbicara dengan lembut dan menjaga kesopanan.
Hubungannya dengan Kim Sang-sik juga disebut terbangun kuat. Keduanya dinilai saling memahami sehingga Do Anh Van jarang perlu meminta pelatih mengulang instruksi untuk diterjemahkan. Pemahaman itu digambarkan bukan hanya soal bahasa, melainkan juga kesamaan pemahaman terhadap filosofi sepak bola dan etos kerja profesional.
Tran Anh Tu turut menyampaikan bahwa Kim Sang-sik menyukai Do Anh Van, dan sebaliknya Do Anh Van menghormati pelatihnya. Meski keduanya kerap terlihat bersama, Do Anh Van disebut tetap mengetahui batasan dalam bersikap terhadap semua orang, baik di dalam maupun di luar tim.
Namanya mungkin tidak tercatat di papan skor atau sering disorot setelah kemenangan, tetapi di balik perjalanan tim nasional Vietnam bersama Kim Sang-sik, Do Anh Van dipandang sebagai salah satu mata rantai penting. Ia bekerja dalam senyap untuk memastikan pesan taktis tersampaikan utuh, pada waktu yang tepat, dan dengan semangat yang sesuai kebutuhan pertandingan.

