Ponorogo dalam tradisi sejarah lokal digambarkan tidak lahir dari ruang hampa. Wilayah ini disebut tumbuh melalui pembukaan hutan, pembentukan permukiman, dan pergulatan politik yang menandai peralihan dari tatanan lama menuju tatanan baru.
Tokoh sentral dalam narasi itu adalah Raden Katong yang kemudian bergelar Kanjeng Panembahan Batoro Katong. Dalam kisah-kisah babad, ia ditempatkan bukan sekadar sebagai pendiri Ponorogo, melainkan sebagai figur yang membangun struktur kekuasaan baru di pedalaman Jawa Timur—wilayah yang digambarkan belum sepenuhnya berada dalam orbit kekuasaan Islam pesisir.
Sejarah awal Ponorogo juga dipaparkan sebagai proses ketika Islam hadir bukan hanya sebagai dakwah, melainkan sebagai negara: membawa hukum, struktur pemerintahan, legitimasi spiritual baru, sekaligus konflik. Karena itu, fase awal Ponorogo kerap dipahami sebagai pertemuan—dan benturan—antara sisa-sisa tradisi Majapahit dan tatanan politik Islam Jawa yang sedang tumbuh.
Dalam Babad Ponorogo, Raden Katong disebut sebagai putra Prabu Brawijaya V. Dalam tradisi historiografi yang dirujuk dalam narasi tersebut, Brawijaya V diidentifikasi sebagai Dyah Kertawijaya. Namun, terdapat perbedaan cerita mengenai sosok ibu Raden Katong: tradisi lisan Ponorogo menyebut Putri Champa, sementara tradisi babad Demak pesisiran menyebut ibu Raden Katong sebagai putri dari wilayah Ponorogo atau Wengker. Perbedaan ini dibaca sebagai bagian dari perebutan legitimasi: apakah Ponorogo dipandang sebagai warisan Majapahit melalui darah rajawi, atau sebagai bagian dari ekspansi dan pengesahan narasi Islam pesisir.
Latar kemunculan Raden Katong digambarkan terkait dengan kerapuhan Majapahit sejak akhir abad ke-14. Konflik internal, termasuk Perang Paregreg (1401–1405 M), disebut meninggalkan trauma politik dan melemahkan fondasi legitimasi kerajaan. Tekanan eksternal dan rangkaian pemberontakan daerah juga dipaparkan sebagai tanda disintegrasi yang makin sulit dikendalikan.
Dalam konteks itu, Dyah Kertawijaya naik takhta pada 1447 M setelah Dyah Suhita wafat tanpa keturunan. Sejumlah babad—antara lain Babad Tanah Jawi, Babad Ponorogo, Babad Gresik, dan Babad Pengging—menyebut Dyah Kertawijaya dikenal pula sebagai Brawijaya V atau Raden Alit. Narasi ini menegaskan pembedaan dari Bhre Kertabhumi yang kerap disamakan dalam historiografi populer.
Pada masa Dyah Kertawijaya, lingkar istana digambarkan mengalami pergeseran ideologis. Disebutkan bahwa istri-istri raja berasal dari Campa dan Cina, dan banyak yang telah memeluk Islam. Sejumlah putra dan kerabat juga disebut tumbuh sebagai Muslim dan diberi kedudukan di berbagai wilayah. Dari kebijakan inilah, dalam narasi babad, muncul jaringan kekuasaan yang menempatkan tokoh-tokoh seperti Arya Damar di Palembang, Raden Patah di Bintara yang kelak mendirikan Demak, Raden Paku di Giri, serta Batoro Katong di Wengker/Ponorogo.
Dengan posisi itu, Raden Katong digambarkan berdiri di persimpangan: anak Majapahit dari dunia lama, tetapi beroperasi dalam dunia baru; membawa darah rajawi, namun mengusung mandat Islam. Ponorogo kemudian dipotret sebagai salah satu arena awal pembentukan negara Islam Jawa di pedalaman.
Menurut Babad Ponorogo Jilid II, Raden Katong diangkat oleh Sultan Demak Bintoro sebagai adipati di wilayah timur sekaligus mendapat perintah menyebarkan Islam. Ia kemudian menerima gelar Kanjeng Panembahan Batoro Katong. Pemberian nama “Batoro” dalam kisah tersebut dipahami sebagai strategi kultural: simbol yang menjembatani konsep ketuhanan lama di pedalaman dengan kepemimpinan Islam yang baru. Dalam kerangka ini, negara yang dibangun tidak digambarkan memutus total simbol lama, melainkan melakukan asimilasi simbolik.
Babad Ponorogo menyebut tiga tokoh utama dalam pendirian Ponorogo: Batoro Katong, Patih Sela Aji, dan Kyai Ageng Mirah. Ketiganya diposisikan sebagai “Tri Tunggal” yang melambangkan persatuan kekuasaan politik, administratif, dan spiritual. Batoro Katong disebut memimpin sebagai adipati dan panglima politik, Patih Sela Aji mengatur pemerintahan dan tata kota, sementara Kyai Ageng Mirah berperan dalam penguatan spiritual Islam dan ketenangan sosial.
Proses pembentukan wilayah baru—dari membuka hutan, membangun dukuh, hingga mendirikan kota—digambarkan panjang dan penuh rintangan. Ponorogo disebut mula-mula dikenal sebagai Kutha Wetan, yang kemudian menjadi pusat kadipaten.
Di sisi lain, kisah babad menempatkan perlawanan elite lokal sebagai bagian penting dari kelahiran Ponorogo. Figur yang paling menonjol adalah Ki Ageng Kutu, tokoh kuat pedalaman yang digambarkan memiliki pengaruh luas, pengikut fanatik, serta kesaktian. Ia diposisikan sebagai representasi tatanan lama yang bertumpu pada kesaktian personal, ikatan warok, dan legitimasi spiritual lokal.
Konflik antara Batoro Katong dan Ki Ageng Kutu dalam narasi babad dibingkai sebagai perang legitimasi tentang siapa yang berhak memegang wahyu kekuasaan di tanah Wengker. Batoro Katong digambarkan membawa simbol negara Islam berupa masjid, hukum, dan struktur pemerintahan administratif. Sementara Ki Ageng Kutu diposisikan sebagai penjaga kosmologi lama.
Babad Ponorogo mencatat ketegangan meningkat seiring berkembangnya pusat kota baru, ramainya pasar, dan pergeseran loyalitas rakyat dari para demang lama ke pusat kadipaten. Kematian Demang Honggolono di Watu Doyong disebut menjadi titik balik yang memutus jalur musyawarah dan membuka konfrontasi terbuka.
Serangan besar terhadap Ponorogo dalam kisah babad disebut dirancang dengan pertimbangan kosmologis, termasuk pemilihan hari Jumat Wage sebagai nuju pati. Pertahanan Ponorogo dipusatkan di masjid. Patih Selo Aji disebut memimpin pasukan, sementara Kyai Ageng Mirah dan Jayadipo menopang dari sisi spiritual dan pusaka. Puncak pertempuran digambarkan terjadi saat pusaka Tunggul Naga berhadapan dengan kesaktian Ki Ageng Kutu, yang berujung pada gagalnya serangan.
Meski demikian, perlawanan tidak digambarkan berhenti seketika. Batoro Katong disebut menempuh strategi penaklukan dari dalam melalui telik sandi Nawangsari yang menyusup ke Surukubeng. Dalam episode ini muncul Niken Gandini, putri Ki Ageng Kutu, yang dalam babad digambarkan sebagai pemegang pusaka keluarga dan memiliki ilmu kanuragan. Pertemuan Batoro Katong dan Niken Gandini ditampilkan sebagai momen penting yang menandai retaknya tatanan lama dari dalam.
Konfrontasi terakhir digambarkan sebagai pengejaran panjang hingga Ki Ageng Kutu disebut menghilang ke wilayah gaib yang dikuasai Nyi Korek, danyang Ponorogo. Hilangnya tokoh itu tanpa jasad diposisikan sebagai penanda kekalahan yang bersifat kosmis. Setelah perlawanan mereda, babad menggambarkan konsolidasi kekuasaan berjalan: para pemuka desa menyerahkan diri, tatanan warok perlahan ditundukkan atau diserap, dan Ponorogo masuk ke orbit Demak serta jaringan politik-keagamaan Islam Jawa awal.
Setelah konsolidasi, Babad Ponorogo Jilid II menyebut sekitar empat puluh keluarga dari Demak dipindahkan ke pusat kadipaten sebagai inti masyarakat negara baru. Arus ini disebut diperkuat oleh masuknya penduduk dari Bagelen, yang dalam tradisi lokal dikaitkan sebagai wilayah asal garis ibu Raden Katong. Warga dari dusun sekitar juga disebut bermukim di kota baru karena faktor keamanan dan peluang ekonomi.
Ponorogo kemudian digambarkan ditata sebagai kota benteng. Sungai di sekelilingnya difungsikan sebagai batas alam dan pertahanan, sedangkan jembatan-jembatan penghubung disebut ditutup setiap malam. Dalam narasi babad, kondisi negeri digambarkan “murah sandang dan pangan” sebagai penanda kemakmuran dan legitimasi penguasa.
Penguatan negara juga dipaparkan terkait jaringan keluarga Batoro Katong. Babad Ponorogo Jilid II menyebut keturunannya mengisi jabatan-jabatan struktural dan tersebar di berbagai wilayah, dari kawasan pesisir selatan hingga pedalaman. Di Ponorogo sendiri disebut ada tidak kurang dari tiga belas bupati yang masih berada dalam garis keturunan langsung Batoro Katong, dengan sejumlah nama yang muncul dalam fragmen babad dan tradisi makam, termasuk kompleks Gondoloyo yang kemudian ditetapkan sebagai tanah perdikan dan masuk wilayah Setono.
Narasi babad juga menempatkan perkawinan sebagai bagian dari strategi konsolidasi. Batoro Katong disebut memiliki beberapa istri. Salah satu yang paling penting adalah Niken Gandini, putri Ki Ageng Kutu. Perkawinan ini diposisikan sebagai langkah politik untuk meredam konflik dan menyerap legitimasi lokal. Disebutkan pula istri dari Kertosari (putri Mbah Wono) yang dimakamkan di wilayah asalnya, serta istri utama dari Kaliwungu dan istri kedua dari Bagelen yang dimakamkan di Setono. Menjelang wafat, Batoro Katong dikisahkan memberi amanat agar para istrinya tidak menikah lagi; pelanggaran atas amanat itu disebut berdampak pada status pemakaman dan keterlibatan dalam ritual simbolik.
Menjelang akhir hayatnya, Batoro Katong juga disebut memberikan pesan agar keluarga tidak berebut kehormatan makam dan menjaga persatuan. Namun babad mencatat bahwa pesan tersebut tidak sepenuhnya ditaati dan konflik keluarga tetap muncul pada generasi berikutnya.
Spiritualitas menjadi unsur lain yang menonjol. Dalam kisah perjalanan meninjau rakyat hingga Gunung Wilis dan Ngebel, Batoro Katong dikisahkan menancapkan tongkat dan memohon kepada Allah hingga memancar air jernih yang disebut Sumber Batoro dan masih digunakan hingga kini. Kyai Ageng Mirah juga dikisahkan memunculkan sumber air untuk menyembuhkan penyakit kulit dan wabah. Kisah-kisah ini dipaparkan sebagai bagian dari legitimasi melalui karomah dan simbol kesalehan.
Di pusat kota berdiri Masjid Setono yang dalam Babad Ponorogo disebut terkait dengan condrosengkolo pendirian kadipaten. Masjid ini diposisikan bukan hanya tempat ibadah, melainkan pusat administrasi moral. Disebut pula peran Kyai Haji Muhammad Musa dan penerusnya dalam menjaga kesinambungan institusi keagamaan. Batoro Katong juga dikisahkan memerintahkan pembuatan prasasti pendirian kadipaten yang dikerjakan oleh Reksoguno.
Warisan budaya yang kuat dalam narasi tersebut adalah Reog Ponorogo. Dalam babad, kesenian ini disebut direinterpretasi dari kisah Raja Wengker. Unsur-unsur lama seperti kepala harimau, penthul-tembem, dan gendruwon tidak dihapus, melainkan diberi makna baru; kalung mote atau mutiara dimaknai sebagai tasbih. Reog diposisikan sebagai arena kompromi budaya, tempat simbol lama diserap tanpa dihancurkan.
Rangkaian penguasa setelah Batoro Katong dalam tradisi lokal disebut berlanjut melalui menantunya, Kanjeng Panembahan Agung, lalu Kanjeng Panembahan Agung II yang dikenal sebagai Pangeran Dodol. Setelah itu muncul nama-nama seperti Kanjeng Adipati Sedakarya, Kanjeng Adipati Sepuh, Kanjeng Raden Tumenggung Ronggowicitra I dan II, Kanjeng Raden Tumenggung Mertowongso I dan II, hingga Kanjeng Raden Tumenggung Soerodiningrat II yang disebut sebagai bupati terakhir di kota lama Ponorogo. Dalam narasi tersebut, kesinambungan ini dipahami sebagai penegasan bahwa legitimasi pemerintahan tetap bertumpu pada garis keturunan pendiri.
Secara keseluruhan, kisah Batoro Katong dalam Babad Ponorogo menempatkan lahirnya Ponorogo sebagai proses yang tidak sepenuhnya damai dan linier. Ia digambarkan terbentuk melalui penaklukan, negosiasi, kompromi budaya, serta penyerapan simbol dan spiritualitas lokal. Ponorogo dipotret sebagai ruang penting dalam transisi Jawa: dari krisis Majapahit, kebangkitan Demak, hingga terbentuknya tatanan baru Islam Jawa di pedalaman.

