BERITA TERKINI
Kisah Arman: Bangkit dari Vakum Menulis hingga Meninggalkan Warisan Terakhir

Kisah Arman: Bangkit dari Vakum Menulis hingga Meninggalkan Warisan Terakhir

Arman, seorang penulis yang sempat dikenal lewat novel pertamanya, mengalami masa sulit setelah pandemi COVID-19 memukul industri buku. Hampir tiga tahun ia berhenti menulis. Laptop yang dulu menjadi teman setianya lebih sering dibiarkan mati, sementara hari-harinya berjalan dalam rutinitas yang terasa kosong. Upaya untuk kembali mengetik pun kerap kandas karena ia merasa kata-kata tak lagi mengalir seperti dulu.

Di saat yang sama, hubungan Arman dengan kekasihnya, Livia, ikut berubah. Livia semakin sibuk dengan pekerjaan kantor dan menuntut Arman segera bangkit. Namun, Arman justru merasa menjadi beban. Setelah sebuah percakapan yang menyiratkan jarak di antara mereka, Livia makin jarang berada di rumah hingga akhirnya tak kembali.

Keputusan Arman untuk memulai lagi muncul dari momen sederhana: ia menemukan novel pertamanya yang usang dan membaca dedikasi di halaman awal. Dorongan itu membuatnya kembali membuka laptop dan menulis sedikit demi sedikit. Setelah menyelesaikan draf novel baru, Arman mengirimkannya ke beberapa penerbit, tetapi penolakan datang berulang kali, termasuk alasan bahwa namanya dianggap tidak lagi relevan.

Dengan tabungan terakhir, Arman memilih menerbitkan bukunya secara mandiri. Novel berjudul Lembar Baru diluncurkan secara sederhana di sebuah kafe kecil. Meski awalnya hanya sedikit orang yang hadir, rekomendasi pembaca di media sosial membuat buku itu menyebar luas. Cerita yang mengangkat kehilangan, harapan, dan perjuangan perlahan menjadi viral, mengembalikan nama Arman ke perhatian publik.

Di tengah keberhasilan itu, Arman menyadari motivasinya telah berubah. Ia tidak lagi menulis demi dikenal, melainkan untuk dirinya sendiri—sebagai cara menyembuhkan luka dan menemukan kembali makna hidup. Livia tidak kembali, dan Arman tidak lagi menunggunya.

Kesuksesan Lembar Baru membawa Arman ke berbagai undangan diskusi dan wawancara. Dalam salah satu acara di sebuah universitas, ia bertemu Ratih, dosen sastra yang juga menulis cerita pendek. Ratih menyampaikan bahwa novel Arman terasa dekat dengan pengalaman pribadinya. Percakapan mereka berkembang menjadi kedekatan yang diwarnai diskusi literasi, saling bertukar gagasan, hingga mengkritisi tulisan masing-masing.

Namun, bayang-bayang masa lalu masih membayangi Arman. Ratih pernah menanyakan apakah Arman masih mencintai Livia. Arman mengaku tidak tahu, tetapi ia ingin terus berjalan ke depan. Ratih mendorongnya untuk menulis tentang keberanian melangkah meski arah belum pasti.

Dorongan itu melahirkan novel berikutnya, Arah Baru, yang dirilis dua tahun kemudian dan diterima hangat oleh pembaca. Bagi Arman, yang paling penting bukanlah capaian penjualan atau sambutan publik, melainkan perjalanan emosional yang ia lalui selama proses menulis. Dalam peluncuran buku itu, Arman melihat Ratih hadir dan memberikan dukungan paling hangat, menegaskan bahwa ia telah menemukan ruang baru dalam hidupnya.

Meski demikian, ketenaran membawa konsekuensi. Jadwal padat, tekanan untuk terus produktif, dan ekspektasi pembaca perlahan membuat Arman kelelahan. Ia kerap menatap layar laptop dengan kepala penuh ide, tetapi tidak sanggup menuliskan apa pun.

Beban itu makin berat ketika Arman mengetahui kabar tentang Livia yang telah menikah dengan seseorang yang sebelumnya disebut sebagai “rekan kerja”. Foto pernikahan yang muncul di media sosial memicu luka lama, membuat Arman mempertanyakan apakah kesuksesan yang ia raih benar-benar sepadan, karena semuanya terasa kosong.

Dalam kondisi tersebut, Arman mulai menulis novel baru berjudul Lembar yang Hilang, dengan suasana yang lebih kelam dan dipenuhi rasa kehilangan serta penyesalan. Ratih sempat meminta Arman beristirahat, tetapi Arman menolak dan menyebut menulis sebagai satu-satunya hal yang membuatnya merasa berarti.

Ketika Lembar yang Hilang dirilis, buku itu mendapat pujian kritis, namun penjualannya tidak memenuhi ekspektasi. Arman kian terpuruk. Ia menarik diri dari publik, menolak undangan, bahkan berhenti membuka media sosial. Ratih tetap berusaha mendampingi, tetapi Arman semakin menjauh dan mengaku kelelahan serta merasa tak punya apa-apa lagi.

Suatu pagi, setelah beberapa hari tanpa kabar, Ratih mendatangi apartemen Arman dan menemukan pintu tidak terkunci. Di meja kerja, ada secarik kertas bertuliskan kalimat bahwa tidak semua cerita membutuhkan akhir bahagia. Ratih kemudian menemukan Arman di kursi kerjanya, dalam keheningan yang abadi. Di sampingnya tergeletak sebuah manuskrip baru yang belum selesai.

Lembar yang Hilang disebut menjadi karya terakhir Arman. Ratih memutuskan menyelesaikan manuskrip yang tertinggal dan menerbitkannya sebagai penghormatan, dengan judul Hening Terakhir. Para pembaca mengenang Arman sebagai penulis yang jujur dan tulus, meski di balik karyanya ia menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Cerita ini ditulis oleh Agus Yulianto, penulis kelahiran Karanganyar, 27 Juli 1987, yang juga dikenal aktif di komunitas kepenulisan dan memiliki sejumlah karya cerpen, puisi, serta esai.