Rivalitas Manchester United dan Arsenal pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an kerap disebut sebagai salah satu penanda era Premier League. Dua figur yang paling merepresentasikan ketegangan itu adalah Roy Keane dan Patrick Vieira—dua kapten yang duel-duelnya di lapangan menjadi simbol pertarungan kedua tim.
Meski keduanya sudah lama pensiun, nama Keane dan Vieira masih lekat di ingatan suporter. Salah satu momen paling dikenang justru terjadi bukan saat bola bergulir, melainkan di lorong stadion Highbury pada 2005, ketika kamera televisi menangkap konfrontasi panas sebelum laga dimulai.
Dalam rekaman yang kemudian menjadi ikonik, Keane terlihat tersulut oleh sesuatu yang dikatakan Vieira di terowongan sempit Highbury. Wasit Graham Poll sempat turun tangan untuk meredakan situasi, namun Keane terus melontarkan kemarahannya. Ketika Vieira ditarik menjauh oleh rekan setimnya Pascal Cygan dan Dennis Bergkamp berbicara di dekatnya, Keane tetap menerobos kerumunan sambil memarahi kapten Arsenal itu dan berteriak, “kita akan lihat nanti di lapangan!” Keane bahkan harus ditahan Poll yang memintanya menenangkan diri sebelum memasuki lapangan.
Belakangan, Keane menganggap kemarahannya dipicu oleh apa yang ia lihat sebagai tindakan “mengintimidasi” terhadap Gary Neville. Neville, dalam wawancara Soccer AM pada 2017, mengingat momen ketika ia mendengar langkah kaki di belakangnya disertai teriakan Vieira, “Neville! Neville! Kamu tidak akan menendang pemain kami di lapangan ini hari ini.” Neville mengatakan Keane berbalik, mendengarnya, lalu mulai memarahi Vieira. Ia juga menyebut Vieira sempat menyemprotkan botol air ke arah Keane sebelum situasi memburuk.
Keane kemudian menulis dalam bukunya The Second Half bahwa ia merasa Arsenal “menindas” Neville. Ia juga menilai ketegangan seperti itu memberi energi tersendiri, seraya mencatat bahwa bertahun-tahun setelahnya orang lebih banyak membicarakan insiden terowongan ketimbang pertandingan yang terjadi setelahnya.
Insiden lorong Highbury itu terjadi pada 1 Februari 2005. Pada hari yang sama, Manchester United menang 4-2 atas Arsenal dalam laga yang juga berlangsung dramatis. Arsenal unggul lebih dulu pada menit kedelapan lewat sundulan Vieira. United menyamakan skor 10 menit kemudian melalui gol defleksi Ryan Giggs, tetapi Arsenal kembali memimpin sebelum turun minum berkat penyelesaian keras Dennis Bergkamp.
Situasi berbalik pada awal babak kedua ketika Cristiano Ronaldo yang masih muda mencetak dua gol beruntun untuk membawa United unggul. Namun, dengan sekitar 20 menit tersisa, United harus bermain dengan 10 orang setelah Mikael Silvestre dianggap beradu kepala dengan Freddie Ljungberg. Meski demikian, tim tamu mampu bertahan hingga John O’Shea menutup kemenangan lewat chip pada menit terakhir untuk mengunci skor 4-2.
Susunan pemain pada laga tersebut adalah sebagai berikut: Arsenal menurunkan Almunia; Lauren (Fabregas 83’), Campbell (Hoyte 79’), Cygan, Cole; Ljungberg, Flamini (Reyes 70’), Vieira, Pires; Bergkamp, Henry. Sementara Manchester United memainkan Carroll; G. Neville, Ferdinand, Silvestre, Heinze; Fletcher (O’Shea 61’), Keane, Scholes; Ronaldo (Brown 70’), Giggs (Saha 77’), Rooney.
Perdebatan mengenai siapa yang lebih baik antara Keane dan Vieira kerap bergantung pada sudut pandang pendukung masing-masing klub. Namun, catatan pertemuan mereka di Premier League menunjukkan Keane sedikit unggul saat berhadapan langsung. Dari 12 pertemuan liga, tim Keane memenangi empat laga, kalah tiga kali, dan lima berakhir imbang. Keane mencetak tiga gol, sementara Vieira satu gol.
Dalam urusan trofi, Keane bersama Manchester United di bawah Alex Ferguson memenangi tujuh gelar Premier League dan empat Piala FA. Vieira meraih tiga gelar liga dan tiga Piala FA bersama Arsenal—dengan Piala FA terakhirnya pada 2005 diraih dengan mengalahkan United. Hingga kini, kisah Keane dan Vieira tetap menjadi potret kuat rivalitas klasik yang membentuk satu periode penting dalam sejarah Premier League.

