Pasar Surat Berharga Negara (SBN) menghadapi tekanan pada awal 2026 seiring meningkatnya ketidakpastian global yang mendorong kehati-hatian investor. Kondisi ini tercermin dari pergerakan imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun yang naik ke kisaran 6,34% pada Kamis (22/1), dari posisi 6,04% di awal tahun.
Tekanan juga terlihat di pasar perdana. Dalam lelang sembilan seri Surat Utang Negara (SUN) pada 20 Januari 2026, pemerintah menyerap dana sebesar Rp 36 triliun. Namun, total penawaran yang masuk tercatat Rp 82,90 triliun, lebih rendah dibandingkan lelang sebelumnya pada 6 Januari 2026 yang membukukan penawaran Rp 90,96 triliun.
Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto menilai tekanan di pasar SUN mulai terasa sejak memasuki pekan kedua Januari 2026. Menurutnya, pada awal tahun kondisi pasar obligasi negara masih relatif stabil, namun meningkatnya ketegangan global membuat pasar menjadi lebih tertekan.
“Kalau saya lihat memang lebih banyak faktor global. Ketegangan global ini meningkatkan ketidakpastian, dan akhirnya berdampak ke pasar kita,” ujar Ramdhan.
Ia menjelaskan, ketidakpastian global turut mendorong pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah yang sempat mendekati level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pekan lalu. Menurut Ramdhan, level tersebut menjadi sinyal meningkatnya tekanan di pasar keuangan domestik.
Pelemahan nilai tukar tersebut disebut ikut menekan volume perdagangan obligasi dan mendorong arus keluar investor asing dari pasar SBN. Tekanan jual yang muncul kemudian membuat yield obligasi pemerintah bergerak naik.
Di tengah situasi itu, investor domestik juga cenderung lebih berhati-hati untuk masuk ke pasar, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan permintaan di lelang SUN. Meski begitu, Ramdhan menekankan penurunan penawaran tidak serta-merta mencerminkan lemahnya daya tahan pasar secara keseluruhan.
“Walaupun penawaran turun dari sekitar Rp 90 triliun di awal tahun ke Rp 82 triliun, tetapi sebenarnya yang dimenangkan masih di atas target. Ini menunjukkan daya tahan pasar masih ada,” ujarnya.
Ramdhan menilai salah satu penopang utama pasar SBN saat ini adalah likuiditas domestik yang masih cukup baik, sehingga membantu menahan tekanan lebih dalam di tengah gejolak global. Ia juga berpandangan pelemahan pasar obligasi saat ini bersifat sementara, mengingat kondisi makro domestik dinilai masih relatif stabil.
“Kalau dari dalam negeri, saya melihat kondisi makro kita relatif stabil. Pemerintah cukup agresif menyikapi kondisi ini, dan BI juga masuk ke market sehingga cukup menenangkan pelaku pasar, khususnya fund manager di pasar surat utang negara,” kata Ramdhan.
Ia menambahkan, di tengah tekanan pasar, investor domestik masih aktif melakukan pembelian di pasar sekunder. Aktivitas tersebut terlihat dari pelaku perbankan dan dana pensiun yang disebut tetap masuk ke pasar obligasi.

