Memasuki awal 2026, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) kembali menjadi perhatian pasar di tengah volatilitas sektor teknologi. Sejumlah investor global tercatat masih mempertahankan kepemilikan mereka di emiten tersebut, memberi sinyal bahwa minat institusi terhadap prospek jangka panjang GOTO belum surut meski harga sahamnya sempat tertekan sepanjang tahun lalu.
Berdasarkan data terbaru, BlackRock Inc. masih menggenggam 31,04 miliar saham GOTO atau setara 2,72%. The Vanguard Group Inc. tercatat memiliki 34,33 miliar saham atau sekitar 3,01%. Sementara itu, JPMorgan Chase & Co juga tercatat menguasai 4,21 miliar saham GOTO.
Di saat yang sama, rumor merger antara GOTO dan Grab Holdings Ltd. kembali menguat seiring adanya perombakan manajemen Gojek. Bloomberg Intelligence menilai peluang akuisisi meningkat, meski valuasi yang dinilai lebih realistis berada pada kisaran US$4–6 miliar. Penilaian tersebut disebut sejalan dengan penurunan harga saham GOTO serta pendekatan valuasi berbasis rasio EV/penjualan.
Isu merger ini menjadi katalis potensial yang terus dicermati pelaku pasar karena dapat memengaruhi arah pergerakan saham GOTO ke depan. Dari sisi fundamental, prospek jangka panjang GOTO dinilai tetap menarik sebagai proksi utama ekonomi digital Indonesia.
Perusahaan disebut telah mencapai titik balik kinerja setelah membukukan adjusted EBITDA tahunan positif pertama pada 2024, dengan proyeksi akselerasi monetisasi pada 2025. Fokus manajemen baru untuk menyeimbangkan pertumbuhan dan profitabilitas, yang ditopang oleh tiga pilar bisnis utama GOTO, turut membuat saham ini tetap berada dalam radar investor pada awal 2026.

