BERITA TERKINI
Kementerian Kesehatan Tinjau Perluasan Daftar Obat Ditanggung Asuransi, Fokus pada Terapi Kanker dan Penyakit Kronis

Kementerian Kesehatan Tinjau Perluasan Daftar Obat Ditanggung Asuransi, Fokus pada Terapi Kanker dan Penyakit Kronis

Biaya pengobatan, terutama untuk terapi kanker modern, masih menjadi beban besar bagi banyak pasien. Salah satunya dialami Tran Kim Thu, warga Distrik Tay Ho, Hanoi, yang telah berjuang melawan kanker payudara lebih dari dua tahun. Ia menyebut harus mengeluarkan sekitar 40 juta VND per bulan untuk obat terapi target, meski sebagian biaya sudah ditanggung asuransi kesehatan. Kondisi ini, menurutnya, terus menekan keuangan keluarga, sementara penghentian pengobatan dapat memperburuk prognosis.

Kisah tersebut menggambarkan persoalan yang lebih luas: di samping kekhawatiran terhadap penyakit, biaya obat—khususnya terapi target—sering menjadi hambatan krusial bagi pasien kanker, terutama mereka yang tinggal di wilayah dengan kemampuan ekonomi terbatas.

Saat ini, berdasarkan daftar obat dalam Surat Edaran No. 20/2022/TT-BYT tertanggal 31 Desember 2022 dari Kementerian Kesehatan, kelompok obat kanker dan imunomodulator mencakup 81 obat yang ditanggung dana asuransi kesehatan. Dalam daftar yang sama, kelompok obat antiparasit dan antiinfeksi berjumlah 182 obat, kelompok obat kardiovaskular 110 obat, dan kelompok obat pencernaan 75 obat.

Untuk menyesuaikan kebutuhan layanan kesehatan, Kementerian Kesehatan sedang meninjau dan memperbarui daftar tersebut. Dalam rancangan surat edaran baru, pemerintah menargetkan penambahan 84 obat kimia dan biologi. Kelompok obat kanker menjadi porsi terbesar dengan 30 jenis atau hampir 36%, termasuk terapi target, antibodi monoklonal, dan imunoterapi.

Kalangan ahli menilai perluasan daftar obat yang ditanggung asuransi kesehatan dapat meningkatkan efektivitas pengobatan sekaligus mengurangi beban keuangan pasien. Nguyen Van Truong dari Departemen Onkologi Rumah Sakit Thanh Nhan menjelaskan bahwa terapi kanker kini bersifat multimodal, menggabungkan pembedahan, kemoterapi, radioterapi, terapi biologis, terapi target, hingga transplantasi sel punca. Kemajuan ini meningkatkan peluang bertahan hidup, namun juga mendorong kenaikan biaya.

Ia menambahkan, banyak obat kanker yang baru dikembangkan dan diimpor, termasuk dari Eropa, memiliki harga tinggi. Karena itu, rencana memasukkan obat-obatan tersebut ke dalam cakupan asuransi kesehatan dinilai sebagai dukungan praktis agar pasien memiliki peluang lebih besar mengakses protokol pengobatan yang lebih maju.

Dari sudut pandang pengelolaan penyakit kronis, Tran Thi Thanh Hoa, mantan Wakil Direktur Rumah Sakit Endokrinologi Pusat, menilai perluasan cakupan obat oleh asuransi kesehatan merupakan kebutuhan mendesak. Ia menyebut sejumlah terapi target berharga sangat tinggi, bahkan ada yang mencapai 60 juta VND untuk satu rangkaian pengobatan. Menurutnya, tanpa asuransi kesehatan, pasien miskin atau penderita penyakit serius akan kesulitan mengakses terapi. Namun, ia juga menekankan perlunya mekanisme pengelolaan yang ketat agar penggunaan obat tepat, rasional, efektif, serta mencegah pemborosan dana.

Direktur Departemen Asuransi Kesehatan Kementerian Kesehatan, Tran Thi Trang, menyatakan bahwa memasukkan obat-obatan baru ke dalam daftar asuransi kesehatan—dengan skema pembayaran bersama sebesar 30–50%—berperan penting untuk mengurangi tekanan finansial dan memperluas akses pengobatan.

Selain obat kanker, rancangan daftar baru juga mencakup 24 obat untuk penyakit kronis seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit pernapasan, gangguan mental, dan penyakit saluran kemih. Penyakit-penyakit ini umumnya membutuhkan pengobatan jangka panjang dengan biaya kumulatif besar, sehingga perluasan cakupan diharapkan dapat membantu menekan beban pasien.

Rancangan tersebut juga menambahkan 18 obat untuk penyakit langka, yang sebagian besar berada dalam kelompok kanker. Dengan biaya yang tinggi dan pilihan terapi terbatas, cakupan asuransi kesehatan diharapkan memberi kesempatan lebih besar bagi pasien untuk mengakses obat-obatan tersebut dan memperbaiki prognosis.

Di luar penambahan obat baru, rancangan itu mengusulkan penyesuaian syarat dan tarif penggantian biaya untuk 52 obat yang sudah ada. Penyesuaian ini mencakup perluasan indikasi penggunaan serta peningkatan tingkat penggantian biaya, yang ditujukan untuk memperluas akses pengobatan.

Trang juga menyoroti tekanan yang meningkat terhadap dana asuransi kesehatan seiring naiknya kebutuhan layanan. Pada 2025, jumlah pemeriksaan dan pengobatan medis diperkirakan melampaui 200 juta, meningkat lebih dari 10 juta dibanding tahun sebelumnya. Di saat yang sama, cakupan manfaat yang luas dan tingkat kontribusi yang terbatas membuat biaya terus meningkat, terutama karena penyakit tidak menular kian umum.

Biaya obat tetap menjadi salah satu komponen terbesar pengeluaran asuransi kesehatan. Meski proporsinya cenderung sedikit menurun, nilai absolutnya meningkat dari sekitar 40.000 miliar VND pada 2022 menjadi lebih dari 50.000 miliar VND pada 2024. Kondisi ini memperkuat kebutuhan untuk memilih dan mengganti biaya obat secara rasional, agar efektivitas pengobatan terjaga sekaligus menjaga keseimbangan keuangan dana.

Dalam penyusunannya, daftar obat ditetapkan berdasarkan bahan aktif tanpa membedakan produk dalam negeri atau impor, untuk menjaga keadilan dan mendorong persaingan harga. Namun, pemilihan obat tetap mengacu pada prinsip ketat, dengan prioritas pada efektivitas dan keamanan serta mempertimbangkan kemampuan dana asuransi kesehatan.

Untuk obat berbiaya tinggi seperti obat kanker atau obat penyakit langka, dana asuransi kesehatan direncanakan menerapkan tingkat penggantian yang sesuai, umumnya 30% hingga 70%, demi menjaga keberlanjutan dana dalam jangka panjang. Daftar obat juga akan ditinjau dengan prinsip menghapus obat yang dinilai tidak efektif atau tidak lagi dibutuhkan, sambil menambahkan obat baru dengan nilai terapeutik yang lebih tinggi.