Kementerian Pariwisata (Kemenpar) akan menyusun ulang indikator Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) setelah hasil penilaian Kementerian Lingkungan Hidup (LH) menunjukkan ratusan hotel di Bali masih berpredikat merah.
Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenpar Rizki Handayani mengatakan, penyusunan ulang dilakukan menyusul banyaknya pertanyaan terkait komponen penilaian pariwisata berkelanjutan. Menurut dia, Kemenpar dan Kementerian LH telah sepakat untuk menata kembali indikator PROPER.
“Terkait pariwisata berkelanjutan tahun lalu kita dibombardir pertanyaan pada komponen penilaian yang dilakukan Kementerian LH, tapi sudah kami sepakati bahwa Proper itu akan disusun ulang kembali,” kata Rizki dalam acara Pengukuhan Pengurus Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali di Denpasar, Jumat.
Rizki menyebutkan, pada tahun ini indikator pertanyaan PROPER akan disusun bersama Kemenpar dan Kementerian LH. Penyusunan dilakukan dengan mengidentifikasi aspek yang perlu dinilai serta bagian yang dapat dihilangkan.
Ia menambahkan, Menteri LH menyerahkan penyusunan ulang indikator tersebut kepada Kemenpar, dengan catatan pengelolaan sampah di hotel tetap menjadi kewajiban. “Pak Menteri LH bilang diserahkan kepada Kementerian Pariwisata untuk menyusun kembali, tapi tentang pengelolaan sampah di hotel yang diwajibkan,” ujarnya.
Untuk diketahui, PROPER yang dinilai Kementerian LH pada 2025 mencakup penanganan sampah, pengendalian pencemaran air, pengelolaan bahan berbahaya dan beracun, pengelolaan limbah B3, serta pengendalian pencemaran udara. Dalam penilaian tersebut, 229 hotel masih berpredikat merah, yang menjadi pekerjaan rumah bagi sektor akomodasi di Bali untuk memperbaiki indikator yang dinilai.
Kemenpar menyatakan sepakat bahwa pengelolaan sampah wajib masuk dalam indikator. Namun, pihaknya menilai perlu ada perincian lebih lanjut mengenai pelaksanaan kewajiban tersebut karena tantangan di tingkat operasional dinilai tidak ringan bagi hotel maupun akomodasi pariwisata.
“Wajibnya oke, tapi bagaimana wajibnya itu dilaksanakan itu yang perlu kita komunikasikan, kami menyadari isu sampah ini isu bersama dan sampah di industri pariwisata perlu dikelola,” kata Rizki.
Kemenpar juga menilai, ke depan keberhasilan hotel dalam mengelola limbah dapat menjadi nilai tambah di mata wisatawan. Rizki menyebut tren menunjukkan wisatawan semakin tertarik pada pariwisata berkelanjutan, sehingga pengelolaan lingkungan berpotensi memengaruhi citra sebuah hotel.
“Ini sebenarnya menjadi salah satu citra dari hotel tersebut, namun demikian kita juga punya tantangan, semua pasti punya tujuan dan visi sama tapi bagaimana melaksanakannya di tingkat operasional,” ujarnya.
Selain mendorong pariwisata berkelanjutan melalui PROPER, Kemenpar juga memasukkan aspek keamanan dan keselamatan wisatawan sebagai indikator penting yang perlu dipenuhi di Bali.

