Staf Ahli Gubernur Lampung Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Bani Ispriyanto, mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah secara daring dari Ruang Command Center Dinas Kominfotik Provinsi Lampung, Senin (19/1/2026).
Dalam rapat tersebut, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Tomsi Tohir meminta seluruh pemangku kepentingan, khususnya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Satgas Pangan, meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan inflasi menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026.
Tomsi menyoroti data historis yang menunjukkan inflasi pada periode Lebaran dapat meningkat tajam dibandingkan rata-rata bulanan. Ia mencatat inflasi Lebaran 2025 mencapai 1,6%, jauh di atas rata-rata bulanan sebesar 0,30%.
“Kalau naik saja tidak apa-apa, tapi kalau naik keterlaluan sampai 3-4 kali lipat, ini tidak wajar dan harus kita cegah. Satgas Pangan Daerah bersama TPID harus turun setiap minggu, cek betul sampai ke gudang,” ujar Tomsi.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menjelaskan bahwa berdasarkan data historis lima tahun terakhir, awal Ramadan secara konsisten mencatat tingkat inflasi lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Menurutnya, komoditas yang kerap menjadi penyumbang inflasi terbesar pada momen tersebut adalah daging ayam ras, telur ayam ras, beras, minyak goreng, dan cabai rawit.
“Secara historis, pada awal Ramadan selalu terjadi inflasi. Komoditas yang konsisten memberikan andil inflasi terbesar pada momen tersebut adalah daging ayam ras, telur ayam ras, beras, minyak goreng, dan cabai rawit. Ini harus segera diantisipasi karena kita akan memasuki bulan Ramadan bulan depan,” ujar Pudji.
Pudji juga menyampaikan bahwa Ramadan 2026 diperkirakan dimulai pada pertengahan bulan, berbeda dengan 2025 yang dimulai pada awal Maret. Kondisi ini dinilai berpotensi membagi tekanan inflasi ke dalam dua bulan, dengan kemungkinan puncak inflasi bergeser ke bulan berikutnya setelah awal puasa.
Meski tren umum disebut menunjukkan penurunan, BPS memberikan catatan terhadap beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga signifikan dan meluas pada minggu ketiga Januari 2026. Pudji menyebut harga bawang putih naik 1,88% dibandingkan Desember 2025, dengan kenaikan terjadi di 203 kabupaten/kota atau sekitar 56% wilayah Indonesia. Harga bawang putih juga dilaporkan sudah berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP).
Selain itu, minyak goreng masih menunjukkan tren peningkatan. Untuk produk “Minyakita”, BPS mencatat harga di 393 kabupaten/kota telah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). Dari jumlah tersebut, 98 wilayah berada di Pulau Jawa dan 295 wilayah di luar Pulau Jawa.
Sementara itu, komoditas hortikultura seperti cabai rawit dan bawang merah tercatat mengalami penurunan harga pada minggu ketiga Januari. Cabai rawit turun 10,91% dan bawang merah turun 3,59%, meski rata-rata harganya masih berada di atas HAP.

