BERITA TERKINI
Kadin: Perjanjian Dagang RI–AS Berpotensi Melipatgandakan Perdagangan hingga Empat Kali

Kadin: Perjanjian Dagang RI–AS Berpotensi Melipatgandakan Perdagangan hingga Empat Kali

Perjanjian dagang yang tengah dibahas Indonesia dan Amerika Serikat (AS) dinilai berpotensi mendorong lonjakan nilai perdagangan bilateral. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie memperkirakan total perdagangan kedua negara bisa meningkat hingga tiga sampai empat kali lipat dari posisi saat ini.

Dalam wawancara di sela World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Anindya menyebut nilai perdagangan Indonesia–AS yang kini sekitar US$ 40 miliar per tahun berpeluang melonjak jika kesepakatan tersebut terealisasi bulan depan. Menurutnya, perdagangan akan menjadi lebih seimbang, namun totalnya tetap dapat meningkat signifikan.

Anindya menjelaskan, Indonesia selama ini mencatat surplus perdagangan dengan AS sekitar US$ 2 miliar per bulan. Ia menilai pemerintah AS memiliki kepentingan untuk menyeimbangkan neraca tersebut. Keseimbangan itu, menurut Anindya, dapat terjadi melalui peningkatan pengiriman komoditas AS ke Indonesia seperti gandum, kapas, minyak, gas, dan produk susu.

Di sisi lain, Indonesia juga melihat peluang peningkatan ekspor dengan akses pasar yang lebih luas untuk sejumlah komoditas, antara lain minyak sawit, produk garmen, elektronik, dan furnitur.

Salah satu poin yang disorot dalam pembahasan adalah penurunan ancaman tarif tambahan terhadap produk Indonesia. Tahun lalu, AS sempat mengancam mengenakan tarif tambahan sebesar 32% untuk produk ekspor Indonesia. Melalui kesepakatan baru, tarif tersebut disebut akan ditekan menjadi 19% saat perjanjian berlaku.

Data Kementerian Perdagangan mencatat, pada 2024 ekspor Indonesia ke AS mencapai US$ 26,54 miliar dengan komoditas utama meliputi minyak sawit, alas kaki, dan mesin listrik. Sementara itu, ekspor AS ke Indonesia pada periode yang sama sekitar US$ 12 miliar dan disebut relatif stagnan sejak 2021. Produk utama AS yang masuk ke Indonesia antara lain kedelai, gandum, kapas, serta minyak bumi.

Selain perdagangan, Anindya menilai kesepakatan ini juga berpotensi meningkatkan arus investasi dua arah. Ia menyebut investasi Indonesia di AS dapat meningkat, demikian pula investasi dari AS ke Indonesia.

Di sisi pemerintah, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyatakan pembahasan akhir antara delegasi kedua negara telah rampung. Ia mengatakan substansi perjanjian sudah selesai, meski tidak merinci detailnya. Penandatanganan perjanjian disebut berpeluang dilakukan bulan depan, bergantung pada jadwal masing-masing pemimpin negara.

Jika terealisasi, perjanjian ini dipandang dapat menjadi langkah penting dalam hubungan dagang Indonesia–AS sekaligus memperluas akses pasar ekspor nasional di tengah dinamika perdagangan global.