Praktik judi online tidak hanya berdampak pada masyarakat, tetapi juga menimbulkan beban ekonomi baru bagi sektor teknologi keuangan. Penyedia layanan pembayaran digital harus menanggung biaya tambahan untuk pengawasan transaksi, penguatan sistem keamanan, hingga perlindungan konsumen dari penyalahgunaan platform.
Dalam diskusi bertajuk Judi Pasti Rugi: Perjalanan Lintas Nusantara Berantas Judi Online, perwakilan GoPay menyampaikan bahwa aktivitas judi online memaksa industri fintech meningkatkan investasi teknologi agar dapat mendeteksi pola transaksi ilegal sejak dini. Sistem pembayaran digital kini tidak lagi semata memfasilitasi transaksi, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam mitigasi risiko kejahatan finansial.
Senior Brand Manager GoPay, Irwan Ari Wibowo, mengatakan pengawasan dilakukan secara otomatis dengan memanfaatkan sistem analitik berbasis teknologi. Setiap transaksi dianalisis untuk memastikan tidak mengandung pola mencurigakan yang berkaitan dengan judi online.
“Saat terjadi transaksi, sistem langsung menganalisis apakah pola transaksi itu mencurigakan dan akan langsung terdeteksi,” ujar Irwan dalam diskusi, Kamis, 28 Januari 2026.
Menurut Irwan, pengawasan tersebut mencakup penerapan know your customer (KYC), pemantauan perilaku transaksi, hingga penggunaan kecerdasan buatan untuk mendeteksi anomali. Namun, penguatan sistem ini membutuhkan investasi yang tidak kecil, baik dari sisi pengembangan teknologi maupun operasional.
Head of GoPay Wallet, Kelvin Timotius, menegaskan perlindungan dilakukan secara menyeluruh sejak pengguna masuk ke dalam sistem hingga pascatransaksi. Langkah itu ditujukan untuk meminimalkan peluang penyalahgunaan akun sebagai sarana judi online.
“Dari awal masuk akun kami proteksi, saat transaksi kami proteksi, dan setelah transaksi juga kami blok,” kata Kelvin.
Ia menambahkan, upaya tersebut merupakan bagian dari komitmen menjaga kepercayaan pengguna terhadap layanan keuangan digital. Namun, semakin masifnya praktik judi online membuat biaya kepatuhan (cost of compliance) dan pengamanan sistem terus meningkat.
Dari perspektif ekonomi, judi online dipandang sebagai beban eksternal bagi industri fintech. Dana dan sumber daya yang semestinya dialokasikan untuk inovasi produk dan peningkatan layanan berpotensi dialihkan untuk mitigasi risiko dan pengawasan aktivitas ilegal. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan biaya operasional sektor keuangan digital.
Pemerintah dan pelaku industri menilai pemberantasan judi online tidak dapat dibebankan hanya kepada penyedia layanan pembayaran. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting agar biaya ekonomi akibat judi online tidak terus membesar dan menghambat pertumbuhan ekosistem keuangan digital yang sehat.

