PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mulai menyiapkan strategi untuk menghadapi berakhirnya Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) pada 2042. Persiapan ini juga mempertimbangkan tantangan industri batubara yang menghadapi tekanan global terkait transisi energi, termasuk target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada 2060.
Direktur AADI sekaligus Presiden Direktur PT Adaro Indonesia, Priyadi, mengatakan AADI sebelumnya merupakan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) yang kini berlanjut menjadi IUPK. Menurutnya, izin tersebut memiliki batas waktu yang ditetapkan pemerintah.
“Kita bermula dari pemegang PKP2B yang sekarang menjadi IUPK, kelanjutan PKP2B. Tentunya ada batas kontrak atau batas izin yang ditentukan oleh pemerintah, dimana kita sekarang menjalani perpanjangan 10 tahun pertama. Nanti kalau 10 tahun kedua diberikan, akan berakhir di 2042,” ujar Priyadi dalam Indonesia Weekend Miner by Indonesia Mining Summit di Jakarta, Sabtu (24/01/2026).
Priyadi menyampaikan AADI mengandalkan keunggulan operasional (operation excellence) sebagai strategi bisnis, termasuk dalam menyiapkan karyawan. Ia menilai kesiapan sumber daya manusia (SDM) menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan perusahaan.
“Tentunya karyawan-karyawan ini juga kita persiapkan. Karena apa? Induknya kan enggak boleh berhenti. Harus ada terus. Apalagi Adaro sendiri mengandalkan kekuatan operation excellence,” katanya.
Ia meyakini SDM yang kompeten dan inovatif dapat membantu perusahaan menghadapi tekanan terhadap bisnis batubara maupun berakhirnya kontrak. Priyadi juga menyinggung kemungkinan perubahan permintaan batubara seiring tekanan global terhadap energi fosil menuju 2060.
“Jadi inilah yang kita kembangkan supaya nanti misalnya kontrak batubara kita ini berakhir, kita sudah punya sumber daya manusia yang siap untuk dikembangkan. Atau kalau memang batubara masih tekanan global di 2060 kan, Indonesia sudah energi fosil ditiadakan. Jadi ini yang kita siapkan,” jelasnya.
Di sisi operasional, Priyadi mengakui industri batubara menghadapi tantangan, terutama tekanan global penggunaan energi fosil yang berpotensi menurunkan pemakaian batubara. Karena itu, AADI menekankan perencanaan tambang yang konsisten agar operasi tidak berfluktuasi.
“Tentunya strategi yang kita lakukan, perencanaan tambang yang baik, terutama aspek seberapa stripping ratio (SR)-nya dan jarak angkutnya, ini yang kita buat sekonsisten mungkin supaya operasi kita tidak fluktuatif,” ujarnya.
Priyadi menambahkan, importir terbesar batubara Indonesia saat ini masih berasal dari China dan India. Namun, kedua negara tersebut juga berupaya meningkatkan produksi batubara domestik. Dalam konteks itu, AADI menilai efisiensi rantai pasok menjadi kunci.
“Pelanggan kita ini mainly China-India dan itu adalah produsen-produsen batubara. Inilah yang harus kita pastikan bahwa supply chain kita efisien. Maka itu kita integrasikan mulai dari tambang sampai ke delivery ke pelanggan,” imbuhnya.
Adapun pemisahan sektor bisnis dalam tubuh Adaro Indonesia telah dilakukan sejak akhir Desember 2024. Spin-off terjadi ketika PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) melepas anak usaha di bidang batubara termal, PT Adaro Andalan Indonesia (AADI), pada 5 Desember 2024.
Setelah menjadi entitas yang fokus pada batubara termal untuk pasokan listrik, AADI kemudian menawarkan sahamnya melalui mekanisme Penawaran Umum oleh Pemegang Saham (PUPS) dan IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sementara itu, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) berubah nama menjadi PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dengan fokus pada hilirisasi mineral, pengembangan energi baru terbarukan (EBT), dan batubara metalurgi (coking coal).

