BERITA TERKINI
IREI Dorong Industri Real Estate Bertransformasi di Tengah Perlambatan Ekonomi Global

IREI Dorong Industri Real Estate Bertransformasi di Tengah Perlambatan Ekonomi Global

Di tengah perlambatan ekonomi global dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik, industri real estate Indonesia dihadapkan pada pilihan strategis: bertahan atau melangkah lebih maju. Tahun 2026 disebut menjadi momentum penentu bagi sektor ini untuk bertransformasi, dari sekadar ekspansi menuju penciptaan aset bernilai tinggi yang tangguh, relevan, dan berkelanjutan.

Merespons tantangan tersebut, Indonesia Real estate Institute (IREI) menggelar talkshow bertajuk “Advancing Challenge Into High Value & Opportunities”. Acara ini mempertemukan para pakar dari bidang real estate, investasi, arsitektur, dan keberlanjutan, di antaranya Johannes Widodo (Profesor National University of Singapore), Bayu Utomo (Strategic Property Optimization Expert), Vivin Harsanto (Executive Director & Head of Growth JLL), Iwan Prijanto (CEO Dex Sustainable Solution & Chair Board of Experts GBCI), Ryan Brasali (Director Kota Baru Parahyangan), Yudhaprana Sugarda (Architect & Airport Management Expert), serta Linda T. Wijaya, CEO & Founder IREI.

Dalam diskusi tersebut, tema acara diarahkan untuk melihat kemampuan industri dalam mengubah tekanan menjadi peluang melalui reposisi aset, pengembangan sektor non-tradisional, dan optimalisasi nilai kawasan. Sejumlah tren dinilai menguat, termasuk pergeseran ke aset berkualitas (flight to quality). Selain itu, sektor data center, logistik modern, kawasan industri berbasis teknologi, kesehatan, pendidikan, dan pariwisata berkelanjutan diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan baru. Prinsip keberlanjutan dan ESG juga disebut semakin menjadi fondasi dalam pengembangan properti yang berdaya saing jangka panjang.

Bayu Utomo dalam paparannya bertajuk “Overcoming Investment Challenges in a Downturn Time” menekankan pentingnya kesiapan proyek, proses pengembangan yang terstruktur, serta keselarasan antara pengembang dan investor dalam menghadapi dinamika pasar. Dengan merujuk analisis pasar real estate Asia Pasifik dan kerangka RISE (Resilience, Innovation, Sustainability, Efficiency), strategi tersebut dinilai dapat menjaga keberlanjutan proyek sekaligus meningkatkan kepercayaan investor dalam jangka panjang.

Sementara itu, Johannes Widodo menyoroti bahwa krisis kerap menghadirkan peluang. Dengan pendekatan within crisis there is opportunity, ia mendorong industri real estate mengadopsi cara pandang yang lebih visioner, adaptif, dan berani berinovasi. Ia menyebut empat pilar utama, yakni resilience, innovation, sustainability, dan efficiency, sebagai kunci agar industri tidak hanya bertahan, tetapi juga bangkit lebih kuat.

Diskusi juga menyinggung peran bandara sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui konsep Airport Urbanism. Bandara disebut berkembang menjadi ekosistem properti terpadu yang mengintegrasikan penerbangan, ritel, bisnis, logistik, dan pariwisata. Konsep ini dinilai membuka peluang pendapatan non-aeronautika yang berkelanjutan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi regional.

Contoh pengembangan berkelanjutan turut disampaikan melalui Kota Baru Parahyangan (KBP), yang diperkenalkan sebagai kota mandiri seluas 1.800 hektare dengan fokus pada pendidikan, kualitas hidup, dan kelestarian lingkungan. Hingga September 2025, lebih dari 6.000 unit hunian dilaporkan telah dihuni, dengan dukungan fasilitas pendidikan, kesehatan, komersial, serta ruang terbuka hijau yang terintegrasi.

Secara umum, meski pasar properti Indonesia disebut masih berada dalam fase penyesuaian, prospek jangka panjang dinilai tetap menjanjikan. Sejumlah faktor yang dianggap mendukung antara lain demografi, pertumbuhan ekonomi digital, pembangunan infrastruktur, serta pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus, yang disebut membuka peluang bagi real estate nasional untuk menciptakan aset bernilai tinggi dan berdampak ekonomi serta sosial secara berkelanjutan.

Linda T. Wijaya, CEO IREI sekaligus penggagas acara, menilai sektor real estate Indonesia memiliki peluang besar dalam percepatan pembangunan, termasuk melalui penguatan jaringan penunjang seperti Transit Oriented Development (TOD) yang secara bertahap disebut menjadi jalur arteri bagi masyarakat. Ia juga menyatakan IREI akan terus mendorong perubahan untuk kemajuan real estate Indonesia ke depan.

IREI merupakan lembaga yang berfokus pada pendidikan, pelatihan, dan pengembangan profesional di bidang real estate. Lembaga ini menyatakan komitmennya untuk membentuk masa depan industri melalui penyediaan pengetahuan modern, pengalaman belajar yang adaptif, serta budaya perbaikan berkelanjutan guna membekali individu dengan keterampilan yang dibutuhkan dalam perkembangan sektor real estate.