BERITA TERKINI
Investasi Hilirisasi Januari–September 2025 Naik 58,1%, Nikel Jadi Komoditas Mineral Terbesar

Investasi Hilirisasi Januari–September 2025 Naik 58,1%, Nikel Jadi Komoditas Mineral Terbesar

Pemerintah menempatkan hilirisasi sebagai salah satu fokus pada 2025. Kebijakan ini dipandang sebagai jalur untuk meningkatkan nilai ekspor, mendorong industrialisasi berbasis sumber daya alam secara berkelanjutan, memperkuat substitusi impor, serta menciptakan lapangan pekerjaan.

Indonesia disebut memegang peran penting dalam rantai pasok global sebagai produsen nikel, minyak kelapa, sawit, dan karet. Melalui Peta Jalan Hilirisasi Investasi Strategis, pemerintah menetapkan cakupan 28 komoditas dan delapan sektor utama, dengan target nilai investasi mencapai US$618 miliar pada 2040.

Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi hilirisasi Indonesia pada Januari–September 2025 mencapai Rp431,4 triliun, meningkat 58,1% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Realisasi tersebut berasal dari Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

Dari sisi sektor, mineral menjadi penyumbang investasi hilirisasi terbesar dengan realisasi Rp291,6 triliun pada Januari–September 2025. Di dalamnya, nikel tercatat sebagai komoditas unggulan dengan investasi Rp136,1 triliun.

Besarnya investasi di sektor mineral juga ditopang komoditas lain, antara lain tembaga Rp61,2 triliun, bauksit Rp43,2 triliun, besi baja Rp31 triliun, serta timah Rp5 triliun. Sementara Rp15,1 triliun lainnya berasal dari komoditas pasir silika, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal buton, serta logam tanah jarang.

Mineral transisi seperti nikel, kobalt, litium, dan tembaga menjadi perhatian investor global sebagai fondasi energi bersih dan kendaraan listrik. Mengacu pada laman Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara, Indonesia masih berkomitmen mengarahkan kekuatan nikel untuk industri stainless steel dan baterai kendaraan listrik, dengan perkiraan kebutuhan bahan baku industri sebesar 250–290 juta ton.

Di posisi kedua, sektor perkebunan kehutanan membukukan realisasi investasi Rp103,3 triliun. Kelapa sawit menjadi kontributor terbesar dengan Rp52,7 triliun, disusul kayu log Rp36,6 triliun dan karet Rp9,7 triliun. Komoditas lain seperti pala, kelapa, kakao, dan biofuel mencatat Rp4,3 triliun.

Sektor hilirisasi minyak dan gas bumi meraih investasi Rp32,6 triliun, terdiri dari minyak bumi Rp18,3 triliun dan gas bumi Rp14,3 triliun. Adapun sektor hilirisasi perikanan kelautan mencatat investasi Rp3,9 triliun dari komoditas garam, ikan TCT (tuna, cangkalang, tongkol), udang, rumput laut, rajungan, dan tipala. Indonesia memiliki luas laut dengan perkiraan 3,2 juta km², yang dinilai masih menyimpan daya saing untuk terus ditingkatkan.

Berdasarkan sebaran wilayah, lima provinsi dengan realisasi investasi hilirisasi tertinggi adalah Sulawesi Tengah Rp84,2 triliun, Maluku Utara Rp48,2 triliun, Jawa Barat Rp43,7 triliun, Nusa Tenggara Barat Rp32,0 triliun, dan Jawa Timur Rp28,2 triliun.

Di sisi kebijakan, pemerintah memberi sinyal penyesuaian volume produksi mineral dan batu bara pada 2026. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana memangkas target produksi bijih nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) menjadi sekitar 250–260 juta ton, turun dari RKAB tahun lalu yang sebesar 364 juta ton. Sejumlah perusahaan nikel melihat langkah ini sebagai upaya untuk mempertahankan serta meningkatkan nilai tambah nikel secara maksimal.

Namun, komitmen pemenuhan aspek kepatuhan lingkungan dan prinsip environment, social, and governance (ESG) dalam proyek hilirisasi nikel tetap menjadi tuntutan publik. Dorongan menuju energi bersih dan terbarukan dinilai perlu dipastikan tidak berkelindan dengan deforestasi, pencemaran lingkungan, maupun pelanggaran hak-hak masyarakat adat.