Pound Sterling (GBP) kembali menunjukkan pelemahan yang, menurut ING, mencerminkan sensitivitas mata uang tersebut terhadap volatilitas pasar obligasi. Analis valas ING, Francesco Pesole, menilai pergerakan Sterling terbaru terkait risiko “mengimpor” gejolak obligasi, terutama setelah periode ketika GBP sempat bergerak dengan korelasi negatif terhadap imbal hasil di bagian belakang kurva, di tengah kekhawatiran fiskal.
Meski demikian, ING mencatat kondisi pasar yang lebih tenang pada pagi hari dapat membuka ruang bagi pasangan EUR/GBP untuk mengalami tekanan turun dan kembali bergerak di bawah level 0,870.
Dari sisi data ekonomi, laporan inflasi Inggris untuk Desember dinilai tidak membawa informasi baru yang kemungkinan mengubah arah kebijakan Bank of England (BoE) menjelang pertemuan Februari. Ekonom ING, James Smith, menyoroti ukuran inflasi “layanan inti” yang menjadi perhatian BoE—yang mengecualikan komponen volatil dan terindeks—tetap berada di 4,0% untuk bulan ketiga berturut-turut.
Sementara itu, inflasi headline tercatat sedikit lebih tinggi dari perkiraan konsensus, yakni 3,4%. Kenaikan ini sebagian didorong oleh harga makanan yang meningkat menjadi 4,5%. Menurut ING, komponen makanan merupakan faktor yang dipantau secara ketat oleh anggota Komite Kebijakan Moneter (MPC), meskipun angkanya masih jauh di bawah proyeksi BoE sebesar 5,3%.

