BERITA TERKINI
Inflasi Mereda, Namun Biaya Hidup Masih Menekan Rumah Tangga Amerika

Inflasi Mereda, Namun Biaya Hidup Masih Menekan Rumah Tangga Amerika

Meski laju inflasi di Amerika Serikat telah turun signifikan dari puncaknya, banyak rumah tangga masih merasakan tekanan biaya hidup yang tinggi. Harga berbagai kebutuhan penting—mulai dari sewa hingga bahan pangan dan utilitas dasar—tetap berada pada level yang membebani anggaran keluarga, dan mulai memengaruhi pola belanja sejak awal tahun.

Akhir pekan ini, data inflasi terbaru AS dijadwalkan rilis. Namun bagi banyak warga, angka-angka makroekonomi tersebut kerap terasa kalah penting dibanding pengeluaran yang mereka hadapi setiap hari, seperti sewa rumah dan kebutuhan pokok.

Sejumlah laporan media besar menyoroti bahwa persepsi mahalnya biaya hidup belum mereda seiring turunnya inflasi. Kenaikan harga yang tajam dalam beberapa tahun terakhir untuk kebutuhan dasar telah membuat banyak keluarga kesulitan menyesuaikan pengeluaran.

Tekanan paling nyata terlihat pada biaya sewa. Di sejumlah wilayah metropolitan utama AS, harga sewa acuan apartemen satu dan dua kamar tidur dilaporkan meningkat sekitar 40% dibandingkan tahun 2021. New York menjadi salah satu contoh paling menonjol: sewa bulanan apartemen satu kamar disebut naik lebih dari 850 dolar AS, hingga berada di kisaran 2.700 dolar AS tahun ini.

Namun dampak kenaikan biaya hidup tidak dirasakan merata. Rumah tangga berpenghasilan tinggi disebut masih mampu berbelanja besar, sementara kelompok berpenghasilan rendah dan menengah cenderung mengambil langkah lebih defensif dalam mengelola pengeluaran.

Sejumlah indikator konsumsi menunjukkan pola tersebut. Laporan yang mengutip Federal Reserve Bank of New York menyebut penjualan barang kelas menengah hingga ramah anggaran mengalami penurunan, sementara barang kelas atas tetap laku. Di industri perhotelan, permintaan untuk pilihan bersantap dengan harga lebih tinggi meningkat, sedangkan segmen kelas menengah masih menghadapi tekanan. Peritel kecil juga melaporkan penurunan bisnis yang tajam.

Dampaknya terlihat dalam kebiasaan sehari-hari. Warga berpenghasilan rendah dan menengah dilaporkan beralih ke produk yang lebih murah, mengurangi konsumsi protein, mengurangi perjalanan, serta lebih sering kesulitan membayar tagihan.

Perubahan perilaku belanja ini menjadi perhatian karena konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar dua pertiga dari produk domestik bruto (PDB) AS, dan kelompok berpenghasilan rendah serta menengah mencakup porsi besar dari total konsumsi. Ketika kelompok ini menahan belanja, ketahanan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan dapat menjadi lebih rapuh.

Pekan depan, Federal Reserve AS akan menggelar pertemuan kebijakan pertamanya pada tahun ini. Bank sentral diperkirakan mencermati inflasi inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi yang cenderung berfluktuasi. Namun bagi konsumen—terutama yang berpendapatan rendah—harga pangan dan energi tetap menjadi perhatian utama karena paling langsung memengaruhi pengeluaran harian.