BERITA TERKINI
IndustriALL di Kongres VII FSPMI: Kritik Disebut Nafas Demokrasi, Perjuangan Buruh Harus Konsisten

IndustriALL di Kongres VII FSPMI: Kritik Disebut Nafas Demokrasi, Perjuangan Buruh Harus Konsisten

Jakarta — Assistant General Secretary IndustriALL Global Union, Kemal Ozkan, menegaskan perjuangan kaum buruh di berbagai negara, termasuk Indonesia, perlu terus dilanjutkan secara konsisten dan terarah. Pernyataan itu disampaikan dalam sambutannya pada Kongres VII Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) di Hotel Mercure Convention Ancol, Jakarta Utara.

Dalam pidato yang disampaikan dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Kemal mengatakan perubahan nyata yang berpihak kepada mayoritas rakyat dan pekerja dinilainya belum sepenuhnya terwujud. Karena itu, ia menilai pemerintah di berbagai negara perlu terus didorong dan dituntut untuk mengambil langkah konkret demi kepentingan rakyat.

“Perjuangan ini harus terus dilanjutkan. Kita tidak ingin kondisi yang berubah-ubah tanpa arah. Pemerintah harus didorong dan dituntut untuk segera mengambil langkah nyata demi kepentingan kita semua,” kata Kemal di hadapan peserta kongres.

Kemal juga menyoroti sistem ekonomi global yang menurutnya belum berpihak pada pekerja. Ia menilai sistem ekonomi saat ini lebih banyak menguntungkan segelintir miliarder, sementara rakyat biasa, pekerja, dan lulusan baru semakin terpinggirkan.

“Yang tumbuh hanyalah angka-angka ekonomi, bukan kesejahteraan rakyat. Pertumbuhan ekonomi tidak otomatis melahirkan keadilan sosial,” ujarnya.

Ia menekankan, tanpa serikat pekerja dan keterlibatan langsung kaum buruh, perubahan yang sejati tidak akan terjadi. Menurutnya, gerakan buruh perlu terus memperjuangkan sistem ekonomi yang bekerja untuk pekerja dan rakyat, bukan hanya untuk segelintir orang kaya.

Dalam konteks demokrasi, Kemal menegaskan pentingnya kritik sebagai bagian dari perjuangan. Ia menyebut kritik bukan ancaman, melainkan fondasi demokrasi yang sehat.

“Kita harus terus melakukan kritik. Kritik yang konsisten, kritik yang berani, kritik yang terorganisir, dan kritik yang berpihak pada kepentingan kaum buruh. Kritik tidak boleh berhenti dan tidak boleh lelah,” katanya.

Ia menambahkan, tanpa kritik, kekuasaan berpotensi berjalan tanpa kontrol. Menurutnya, tanpa kontrol dari rakyat dan serikat pekerja, keadilan tidak akan lahir. “Kritik adalah nafas demokrasi dan senjata perjuangan,” tegasnya.

Kemal juga mengapresiasi keberagaman dalam gerakan buruh, termasuk di FSPMI. Ia menyebut kekuatan organisasi terletak pada persatuan lintas latar belakang—mulai dari pekerja berpengalaman, pekerja muda, hingga pekerja perempuan.

“Dengan seluruh keragaman itu, kita duduk bersama, berdiri bersama, dan berjuang bersama. Persatuan inilah yang menjadikan gerakan buruh kokoh,” ujarnya.

Ia bahkan menilai model persatuan dan solidaritas yang ditunjukkan FSPMI dan gerakan buruh Indonesia dapat menjadi contoh bagi gerakan pekerja, termasuk gerakan guru, di tingkat dunia.

Sambutan Kemal menjadi penegasan bahwa Kongres VII FSPMI dinilai tidak hanya memiliki arti nasional, tetapi juga menempati posisi penting dalam peta perjuangan buruh global, dengan solidaritas, kritik, dan perjuangan kolektif sebagai fondasi.